At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

PANDUAN I’TIKAF

بسم الله الرحمن الرحيم

1. Pengertian I’tikaf .
الاعتكاف هو اللبث في المسجد من شخص مخصوص بنية.
Menetap dan berdiam diri diMasjid oleh seseorang tertentu , dengan berniat I’tikaf. (Al Majmuk Syarah Muhazzab- Imam Nawawi juz 6 Ms 474 , Cetakan Darul Fikar/ Al Fiqh ala Mazahibil Ar Ba’ah—Al Jazairi — Kitab al I’tikaf./ At Ta’rifat – Al Jarjani m.s. 31.)

Maksudnya: I’tikaf disini merupakan satu bentuk ibadat dengan cara menetap di sebuah Masjid dgn tujuan untuk beribadat yang dilakukan oleh seseorang pada saat berpuasa dengan cara yang telah ditentukan oleh Syara’.

2. Asas di Syariat kan I’tikaf .

Asas atau dalil diSyara’kan I’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan ialah
عن عائشة رضى الله عنها , أن النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده .

Dari Aisyah ra. , Bahawa Nabi saw selalu berI’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan hingga diwafatkan oleh Allah Ta’ala , kemudiannya diteruskan sunnah I’tikaf selepasnya oleh Para
Isteri Baginda saw. (Muttafaqun Alaih.– Sahih Bukhari -Bab Al I’tikaf fil asyri al awakhir / Sahih Muslim – Kitabul I’tikaf.)

عن أبي هريرة رضى الله عنه قال : كان صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام . فلما كان العام الذى قبض فيه اعتكف عشرين يوما.
Dari Abi Hurairah ra. , Beliau berkata : Adalah Nabi saw selalu berI’tikaf pada tiap- tiap sepuluh Ramadhan yang terakhir. Ketika beliau diwafatkan , Beliau telah berI’tikaf selama dua puluh hari. (Sahih Bukhari—Bab Al I’tikaf fil asyril aakhir..)

karena itu jelaslah bahwa I’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan adalah Sunnah yang diamalkan
secara berkekalan oleh Nabi saw dan Para Isteri Baginda saw dan juga Para Sahabat ra.

3. Hukum I’tikaf.

Telah sependapat seluruh Imam Mazhab yang empat dan seluruh Umat Islam, bahwa Hukum I’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan adalah “Sunah Mu akkadah”. Bertujuan mengikuti Sunnah Nabi saw dan mencari fadhilah Lailatul Qadar. (Raudhah At Tholibin—Imam Nawawi, juz 2 hal 255, Cetakan Darul Al Kutub Al Alamiyah, Bairut tahun 2000. / Syarah Sahih Muslim — Imam Nawawi juz 8 hal. 67, Darul Tsaqofah )
Tiadk ada khilaf bahwa Tidak Wajib I’tikaf melainkan apabila bernazar dengannya(Fathul Baari- Ibni Hajar Al Asqolani juz 4 hal 319, Darul Rayyan.)

Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

ITI’KAF DAN SYARAT-SYARATNYA

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah iti’kaf pada bulan Ramadlan termasuk sunnat mu’akkad dan apa syaratnya pada selain Ramadlan .? [Athif Muh.Ali Yusuf, Riyadh]

Jawaban.
Iti’kaf pada bulan Ramadlan adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para istrinya setelah beliau tiada. Bahkan ulama sepakat bahwa itikaf disunnatkan. Tetapi sepatutnya itikaf dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, yakni seseorang selalu berada di masjid untuk ta’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meninggalkan kegiatan duniawinya dan mengerjakan berbagai keta’atan berupa shalat, dzikir atau lainnya. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritikaf dalam rangka menemukan malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Yang sedang itikaf itu menjauhi segala aktivitas dunia ; tidak jual atau beli, tidak keluar masjid, tidak mengantar jenazah dan tidak menengok yang sakit.

Ada sebagian orang beritikaf lalu ditemui beberapa orang pada tengah malam atau di ujung hari dengan diselingi obrolan yang diharamkan, maka cara seperti ini menghilangkan maksud itikaf. Kecuali bila dikunjungi oleh salah seorang keluarganya, seperti Shafiyyah pernah mengunjungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang beritikaf dan berbincang-bincang. Yang penting hendaknya seseorang menjadikan itikafnya sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

Hukum Dan Keutamaan Lailatul Qodar

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.
Salawat dan salam serta berkah senantiasa tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Adapun selanjutnya:

Pada kehidupan setiap umat terdapat kejadian yang selalu dikenang, hari-hari baik yang membuat hati tertambat dan jiwa menjadi kelu. Sesungguhnya umat ini telah dimuliakan dengan kejadian-kejadian besar, hari-hari dan malam-malam yang sempurna.

Di antara nikmat yang diberikan Sang Pencipta kepada umat ini adalah malam yang disifati sebagai malam penuh berkah karena banyaknya keberkahan, kebaikan dan keutamaan. Ia adalah malam Lailatul Qodr. Ia memiliki kedudukan yang agung, padanya terdapat kemuliaan dan pahala yang berlebih.
Pada malam itu Allah turunkan al-Quran. Allah -subhanahu wata’âla- berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qodr), dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan (lailatul Qodr) itu?” (QS.al-Qodar: 1-2)
Firman-Nya pula:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhân: 3)
Malam ini terdapat pada bulan Ramadhan yang penuh berkah dan bukan pada bulan yang lain. Allah -ta’âla- berfirman:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…” (QS. Al-Baqarah: 185)
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

Interaksi Dengan Al-Quran Di Bulan Ramadhan

Segala puji bagi Allah -subhanahu wata’âla- yang berfirman dalam kitab-Nya:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Dan firman-Nya -ta’âla-:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (5)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan: 3-5)
Juga firman-Nya -subhanahu wata’âla- :
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qodar: 1)
Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasul yang mulia, yang Allah khususkan dengan wahyu dan kitab-Nya. Sabdanya -shalallah alaihi wasalam-:
(( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ ))
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.”
[HR. al-Bukhari no. 2057, at-Turmudzi no. 2154, Ahmad 420 dan Abu Dawud no. 1454]
Salawat juga tercurah kepada ahlulbait (keluarga Nabi) yang suci, kepada para sahabatnya yang berbakti dan pilihan serta kepada Tabi’in yang meneladani pendahulu mereka siang dan malam.
Adapun selanjutnya,
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 317,252 hits

Pengunjung

online