At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

WAHAI SAUDARAKU ! TERIMALAH NASEHAT INI

Segala puji hanya milik Allah yang Esa. Shalawat dan salam kepada junjungan kita nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam beserta keluarga dan pengikutnya hingga hari kiamat.
Risalah ini kami tulis dalam rangka menasehati saudara-saudara kami, berangkat dari sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam :
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : الدِّينُ النَّصِيحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Dari Tamiim Ad Daari radhiallahu ‘anhu, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim” [Muslim no. 55].

Hari-hari ini kita dapatkan pada para pemuda yang cukup bersamangat terhadap jihad mengalami satu kesalahan berfikir. Mereka menganggap bahwa jihad dan mujahidin tidak akan terlepas dari kesalahan. Sehingga perkataan orang-orang yang memberikan pelurusan pada para ihwah mujahidin yang datangnya bukan dari orang-orang yang sedang mengangkat senjata mereka tolak. Padahal masukan tersebut benar secara dalil dan akal.

Sebaliknya, seluruh perkataan dari orang-orang yang berada di medan jihad dianggap sebuah kebenaran mutlaq. Walau sebanarnya itu tidak dilandaskan dalil yang kuat dan tidak bisa dibenarkan secara akal. Menurut mereka, kebenaran adalah apa yang datangnya dari ahlustsughur dan jihad walaupun menyelisihi nas kitab dan sunnah, sedangkan kesalahan terletak kepada orang-orang yang menyelisihi ahlus tsughur. Dengan kata lain bahwa jihad dan mujahidin tidak mungkin melakukan kesalahan.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: tazkiyah

BENTUK-BENTUK PEMERINTAHAN SERTA CARA MENYIKAPINYA MENURUT KITAB DAN SUNNAH (RINGKASAN SINGKAT KITAB FASHLUL KALAM FI MAS’ALATI KHURUJ ‘ALAL HUKAM)

Fashlul Kalam fi Mas’alati Khuruj ‘Alal Hukam karya Syeikh Abu Bashir

Berkata Syeikh Abu Bashir:

“Permasalahan keluar dari pemerintahan dan kedudukannya dalam Islam merupakan sebagian dari masalah-masalah penting, mayoritas manusia memiliki dua pendapat: pendapat yang berlebih-lebihan yaitu mereka yang mengatakan untuk keluar dari pemerintahan ketika melihat pemerintahan Islam suatu ketika melakukan pelanggaran syar`i ringan. Contohnya ialah golongan Khawarij dan siapa saja yang mengikuti konsep mereka, mereka telah tercampak dalam ghulu (berlebih-lebihan).

Pendapat kedua adalah golongan yang meremehkan….Bahkan mereka berpendapat untuk tidak keluar dari pemerintahan para thagut dan pemerintahan murtad. Mereka ini condong kepada penafsiran pendapat yang dilontarkan oleh kaum Irja` (Murjiah) dan Jahmiyah, yang menganalogikan kondisi mereka dengan kondisi pemerintahan Bani Umayah dan Abasiyah.

Diantara kedua pendapat diatas….Adalah pendapat ketiga yang berada ditengah-tengah anatar keduanya, berdiri diatas landasan kebenaran dam kesesuiannya dengan nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah, berdiri dinatara berlebih-lebihan dan meremekan, merekalah yang mengikuti prinsip Ahlus-Sunnah wal Jamaah.

Kajian yang kami bahas dalam buku ini adalah pendapat ketiga, golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah…..Dari permaslahan penting……Yang ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah, dan kami yakini dan kami ikuti, kami memandangnya merupakan pendapat yang lebih benar dan haq. Pada pendirian inilah kami berprinsip dalam menetapkannya, insya Allah, sesuai dengan dalil syari dari Kitab dan Sunnah dan pendapat yang di rajihkan oleh para ulama salaful ummah.

Tentang permasalahan pemerintahan saya berkata:
Sesungguhnya pemerintahan itu terbagi menjadi empat kriteria; Pemerintahan kafir, pemrintahan muslim, pemerintahan muslim fasik dan permerintahan muslim yang sangat fasik, fajir dan zalim. Hukum dalam menyikapi mereka berbeda satu dengan yang lainnya, dan bagi Anda kami akan menerangkannya.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

SEDIKIT BEKAL UNTUK JAMAAH HAJI

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM BERHAJI

1. Berkaitan dengan ihram dan talbiyah
a. Berihram di miqat yang tidak ditentukan oleh syariat, misalnya di Jeddah.
b. Melakukan indhiba`’ ketika ihram. Indhiba` ialah memakai pakaian ihram dengan menampakkan lengan kanannya tanpa ditutupi. Padahal indhiba` hanya dimulai menjelang thawaf sampai selesai thawaf sebagaimana penjelasan dari Ibnu Abidin: “indhiba` hanya disubnahkan menjelang thawaf sampai selesai tawaf, tidak lebih dari itu”. (Hasyiah Ibnu Abidin 2/215)
c. Talbiyah dengan berjamaah dipimpin leh seorang pembimbing.

2. Berkaitan dengan tawaf.
a. Mandi diniatkan untuk thawaf (Hajjatun Nabi saw. 113)
b. Memulai thawaf setelah sejajar dengan Hajar Aswad.
c. Thawaf melalui bagian dalam Hijr Ismail (Hijir Ismail adalah termasuk bagian dalam Ka`bah).
d. Mengangkat kedua tangan ketika memberi isyarat (istislam) ke Ka`bah seperti mengangkat tangan ketika shalat.
e. Raml (lari-lari kecil) dalam seluruh putaran thawaf.
f. Berdoa dengan suara keras atau berdoa dengan berjamah.
g. Saling dorong mendorong.

3. Berkaitan dengan sa`i
a. Berwudhu khusus untuk mengerjakan sa`i. (Hujatun Nabi saw 119)
b. Naik ke Shafa sampai menempel ke tembok. (yang benar sampai shafa saja). (Hasyiah Ibnu Abidin 2/234)
c. Terus melakukan sa`i, padahal iqamat untuk shalat telah dikumandangkan sehingga tertinggal beberapa rakaat dalam shalat jamaah atau tertinggal penuh. (Hajjatun Nabi saw 121)
d. Shalat 2 rakaat pasca mengerjakan sa`i (Hajjatun Nabi 121)

4. Berkaitan dengan Tarwih / Tarwiyah (tgl 8 Dzulhijah)
a. Langsung menuju Arafah, padahal Rasulullah pada tanggal 8 Dzulhijjah mengerjakan shalat dzhur, Asar, Maghrib, Isya, bermalam dan mengerjakan shalat Subuh di Mina (mabit). (Hujjatun Nabi saw 129)
b. Berangkat ke Arafah pada malam harinya (tidak shalat Subuh di Mina)
c. Setelah mabit di Mina, langsung berangkat menuju Arafah dengan tidak menunggu matahari terbit (tgl 9 Dzulhijjah).
d. Tidak meniatkan ihram.

5. Seputar Wukuf
a. Menaiki Jabal Rahmah kemudian masuk ke Kubah Adam, lalu shalat dan thawaf padanya. (Majmu’ 2/380)
b. Berdoa menghadap Jabal Rahmah, padahal ketentuannya doa menghadap Kiblat.
c. Melakuka shalat sunnah antara shalat dzuhur dan Asar.
d. Wukuf diluar Arafah (sekitaran Wadi Uranah) sampai matahari tenggelam. Wadi Uranah tidak termasuk Arafah akibatnya wukuf nya tidak sah.
e. Berangkat menuju Muzdalifah sebelum terbenamnya matahari yang berarti wukufnya kurang sempurna.
f. Tidak meninggalkan Arafah ketika matahari terbenam bahkan shalat Maghrib dan Isya di Arafah. (Ketentuan meninggalkan Arafah ialah ketika matahari benar-benar menghilang).

6. Seputar mabit di Muzhalifah
a. Menganggap sunnah turun dari kendaraan ketika masuk Mudzdalifah untuk menghormati Mas`aril Haram. (Hajatun Nabi 129)
b. Mengutamakan mencari kerikil sehingga tertinggal shalat Maghrib.
c. Berkeyakinan tidak sah melempar jumrah aqabah kecuali dari kerikil dari Muzdalifah.
d. Meninggalkan Muzdalifah di tengah malam atau bahkan tidak menginap sama sekali. (Keculai bagi yang udzur diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah pada tengah malam).

7. Seputar pelemparan jumrah
a. Mencuci batu yang digunakan untuk melempar.
b. Melempar dengan batu besar ataupun sandal.
c. Melempar pada tanggal 11, 12, atau 13 sebelum tergelincirnya matahari.

8. Seputar sembelihan dan memotong rambut
a. Memotong sembelihan sebelum tanggal 10 Dzulhijjah.
b. Memulai mencukur rambut dari sebelah kiri.
c. Mencukupkan dengan mencukur seper empat kepala saja.

9. Seputar Mabit di Mina
a. Melalaikan mabit di Mina dan memilih tetap tinggal di Makkah atau Aziziyah.

10. Shalat Arba`in
a. Meyakini shalat sunnah Arba`in (melakukan 40 kali shalat fardhu di Masjid Nabawi) berdasar suatu hadist dari anas bin Malik yang ternyata merupakan hadist mungkar setelah diteliti oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Hadist Dhaifah 1/540). Bunyi hadistnya : “Barangsiapa shalat di masjidku 40 shalat tidak lewat satu shalatpun, maka ditetapkan baginya keselamatan dari neraka dan azab serta dibebaskan dari kenifakan”. (Ahmad 3/155, dan Ath-Thabrani)

Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

FUNGSI TARBIYAH DALAM JIHAD

DEFINISI

Secara bahasa: raba-yarubu artinya bertamabah dan berkembang. rabiya-yarbi artinya: membentuk.

Secara istilah:
Nuhammad Yunus dan Qasim Bakr berkata: Tarbiyah yaitu memberikan suatu pengaruh dari seluruh kebutuhan yang diperlukan yang telah dipilih untuk membantu anak agar membentuk jasmani, akal dan akhlak dengan betingkat dan berterusan sampai memenuhi suatu target kesempurnaan yang dimampui agar dia dapat hidup bahagia di kehidupan individualnya serta social dan jadilah amal anak itu bermanfaat bagi masyarakat. (At-Tarbiyah wa Ta’lim karya Muhammad Yunus dan Qasim Bakar)

Menurut Syeikh Nasiruddin Al-Bani menyimpulkan definisi yang diberikan oleh Imam Baidhawi dan Al-Asfahani, bahwa tarbiyah mengandung pengertian-pengertian sebagai berikut:
1. Menjaga dan memelihara fitrah manusia .
2. Pengembangan dan persiapan lengkap untuk memelihara fitrah
3. Mengarahkan fitrah tersebut untuk mengaplikasikan amalan dalam rangka menegakkan khilafah islamiyah.
4. Semunya itu dilakukan dengan bertingkat, level demi level, jenjang demi jenjang (Minhaj Tadris Ulum Syariyah dinukil dalam Risalah Tarbiyah wat Ta’lim karya Abu Hamidah Al-Harbi)

Dr. A. Madkur menjelaskan bahwa pengertian tarbiyah mengandung beberapa unsur, yaitu:
1. Ialah suatu aktifitas terencana dan terprogram bertujuan untuk membumikan Islam berserta tujuan-tujuannya di tengah-tengah masyarakat.
2. Secara itlaq, murabbi al-haq adalah Allah Sang Pencipta, Pencipta fitrah dan penentu yang telah menggariskan peraturan dan perundang-undaangan serta syareat agar manusia hidup sejahtera.
3. Tarbiyah merupakan pembentukan iman kepada Allah.
4. Tarbiyah merupakan usaha yang terus menerus dan pemupukan yang konsisten. (Risalah Tarbiyah wat Ta’lim karya Abu Hamidah Al-Harbi)

Syeikh Umar Muhammad Abu Umar berkata mengenai definisi tarbiyah: “Ialah aplikasi perintah-perintah Allah”. (Al-Jihad wal Ijtihad Ta’amulat fil Manhaj 82). “Maknanya seluruh muslim adalah orang yang tertarbiyah dan mendapatkan tazkiyah dengan mengamalkan perintah-perintah Allah ta’ala. Dengan kata lain barang siapa yang ingin mentarbiyah dirinya maka dia harus mengaplikasikan perintah-perintah Allah. Sudah dimaklumi, bahwa setiap amalan ibadah masing-masing mengandung atsar (efek) khusus. Atsar shalat berbeda dengan siyam sebagaimana siyam juga memiliki atsar tarbiyah yang berbeda dengan shalat, serta zakat memiliki efek khusus yang berlainan dengan shalat dan siyam”. (Al-Jihad wal Ijtihad Ta’amulat fil Manhaj 82)
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

HATI-HATILAH KALIAN DARI ULAMA SU’

Segala puji hanya untuk Allah yang memuliakan islam dengan pertolonganNya, dan menghinakan kesyirikan dengan dengan kekuasaan-Nya. Ialah yang mengurus segala urusan dan memberi tangguh bagi orang-orang kafir dengan rencana-Nya. Shalawat dan salam kepada nabi junjungan Muhammad sallallahu alaihiwasallam yang telah menerangi islam dengan qur’an dan pedangnya.

Sesungguhnya para ulama adalah seperti bintang dilangit. Lewat tangan merekalah manusia mendapat petunjuk. Merekalah yang menjelaskan kepada ummat ini jalan petunjuk dan keistiqomahan di atas pentunjuk tersebut. Dengan merekalah ummat paham tentang jalan kejelekan dan cara menjauhinya. Mereka ibarat hujan yang turun pada tanah gersang sehingga menumbuhkan berbagai tumbuhan yang bermanfaat.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: tazkiyah

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 317,252 hits

Pengunjung

online