At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

SEDIKIT BEKAL UNTUK JAMAAH HAJI

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM BERHAJI

1. Berkaitan dengan ihram dan talbiyah
a. Berihram di miqat yang tidak ditentukan oleh syariat, misalnya di Jeddah.
b. Melakukan indhiba`’ ketika ihram. Indhiba` ialah memakai pakaian ihram dengan menampakkan lengan kanannya tanpa ditutupi. Padahal indhiba` hanya dimulai menjelang thawaf sampai selesai thawaf sebagaimana penjelasan dari Ibnu Abidin: “indhiba` hanya disubnahkan menjelang thawaf sampai selesai tawaf, tidak lebih dari itu”. (Hasyiah Ibnu Abidin 2/215)
c. Talbiyah dengan berjamaah dipimpin leh seorang pembimbing.

2. Berkaitan dengan tawaf.
a. Mandi diniatkan untuk thawaf (Hajjatun Nabi saw. 113)
b. Memulai thawaf setelah sejajar dengan Hajar Aswad.
c. Thawaf melalui bagian dalam Hijr Ismail (Hijir Ismail adalah termasuk bagian dalam Ka`bah).
d. Mengangkat kedua tangan ketika memberi isyarat (istislam) ke Ka`bah seperti mengangkat tangan ketika shalat.
e. Raml (lari-lari kecil) dalam seluruh putaran thawaf.
f. Berdoa dengan suara keras atau berdoa dengan berjamah.
g. Saling dorong mendorong.

3. Berkaitan dengan sa`i
a. Berwudhu khusus untuk mengerjakan sa`i. (Hujatun Nabi saw 119)
b. Naik ke Shafa sampai menempel ke tembok. (yang benar sampai shafa saja). (Hasyiah Ibnu Abidin 2/234)
c. Terus melakukan sa`i, padahal iqamat untuk shalat telah dikumandangkan sehingga tertinggal beberapa rakaat dalam shalat jamaah atau tertinggal penuh. (Hajjatun Nabi saw 121)
d. Shalat 2 rakaat pasca mengerjakan sa`i (Hajjatun Nabi 121)

4. Berkaitan dengan Tarwih / Tarwiyah (tgl 8 Dzulhijah)
a. Langsung menuju Arafah, padahal Rasulullah pada tanggal 8 Dzulhijjah mengerjakan shalat dzhur, Asar, Maghrib, Isya, bermalam dan mengerjakan shalat Subuh di Mina (mabit). (Hujjatun Nabi saw 129)
b. Berangkat ke Arafah pada malam harinya (tidak shalat Subuh di Mina)
c. Setelah mabit di Mina, langsung berangkat menuju Arafah dengan tidak menunggu matahari terbit (tgl 9 Dzulhijjah).
d. Tidak meniatkan ihram.

5. Seputar Wukuf
a. Menaiki Jabal Rahmah kemudian masuk ke Kubah Adam, lalu shalat dan thawaf padanya. (Majmu’ 2/380)
b. Berdoa menghadap Jabal Rahmah, padahal ketentuannya doa menghadap Kiblat.
c. Melakuka shalat sunnah antara shalat dzuhur dan Asar.
d. Wukuf diluar Arafah (sekitaran Wadi Uranah) sampai matahari tenggelam. Wadi Uranah tidak termasuk Arafah akibatnya wukuf nya tidak sah.
e. Berangkat menuju Muzdalifah sebelum terbenamnya matahari yang berarti wukufnya kurang sempurna.
f. Tidak meninggalkan Arafah ketika matahari terbenam bahkan shalat Maghrib dan Isya di Arafah. (Ketentuan meninggalkan Arafah ialah ketika matahari benar-benar menghilang).

6. Seputar mabit di Muzhalifah
a. Menganggap sunnah turun dari kendaraan ketika masuk Mudzdalifah untuk menghormati Mas`aril Haram. (Hajatun Nabi 129)
b. Mengutamakan mencari kerikil sehingga tertinggal shalat Maghrib.
c. Berkeyakinan tidak sah melempar jumrah aqabah kecuali dari kerikil dari Muzdalifah.
d. Meninggalkan Muzdalifah di tengah malam atau bahkan tidak menginap sama sekali. (Keculai bagi yang udzur diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah pada tengah malam).

7. Seputar pelemparan jumrah
a. Mencuci batu yang digunakan untuk melempar.
b. Melempar dengan batu besar ataupun sandal.
c. Melempar pada tanggal 11, 12, atau 13 sebelum tergelincirnya matahari.

8. Seputar sembelihan dan memotong rambut
a. Memotong sembelihan sebelum tanggal 10 Dzulhijjah.
b. Memulai mencukur rambut dari sebelah kiri.
c. Mencukupkan dengan mencukur seper empat kepala saja.

9. Seputar Mabit di Mina
a. Melalaikan mabit di Mina dan memilih tetap tinggal di Makkah atau Aziziyah.

10. Shalat Arba`in
a. Meyakini shalat sunnah Arba`in (melakukan 40 kali shalat fardhu di Masjid Nabawi) berdasar suatu hadist dari anas bin Malik yang ternyata merupakan hadist mungkar setelah diteliti oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Hadist Dhaifah 1/540). Bunyi hadistnya : “Barangsiapa shalat di masjidku 40 shalat tidak lewat satu shalatpun, maka ditetapkan baginya keselamatan dari neraka dan azab serta dibebaskan dari kenifakan”. (Ahmad 3/155, dan Ath-Thabrani)


YANG TIDAK BOLEH LUPA UNTUK DI DOAKAN

Diantara bermacam-macam doa yang dipanjatkan, ada hak doa yang wajib di laksanakan untuk mujahidin dan ahlui tsugur (ulama yang hidup di medan jihad). Doa terutama dipanjatkan kepada para mujahidin di medan-medan ribath seperti di Iraq, Checnya dan Dagestan, Moro, Kashmir, Palestina, Afghan serta mujahidin yang tersebar diberbagai Negara.. Kemudian doa untuk para mujahidin yang ditawan oleh musuh diantaranya di Begram, Guantanamo, Amerika, Israel dll, seperti DR. Umar Abdurrahman dari Mesir yang ditahan di AS dan Syeikh Abu Bashir di Inggris.

Alasan-alasan mereka wajib didoakan ialah:

1. Bahwa jihad adalah amalun jama`iy (aktivitas bersama-sama untuk kepentingan umat) bukan aktivitas yang amalannya kembali kepada pribadi seperti shalat atau haji seperti banyak dijelaskan dibuku-bukunya DR. Abdullah Azzam.

2. Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan panggilan wajib ainiy yakni membela kehormatan islam dan muslimin dimana mayoritas umat Islam melalaikannya. Sebagaimana dimaklumi jihad bisa naik derajadnya menjadi fardhu ain dengan kondisi-kondisi sbb:

a. Bila dua pasukan bertemu atau berhadapan diharamkan bagi para prajurit untuk mundur, berdasarkan dalil; “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka beteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 45-46)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 15-16)

b. Wajib `ain atas semua muslimin untuk memerangi dan mengusir orang-orang kafir yang menduduki negerinya.

c. Bila Imam menunjuk suatu kaum (kelompok) untuk mengadakan operasi militer, wajib bagi mereka untuk mematuhinya. Berdasar firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’. Kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu?” serta ayat sesudahnya. Nabi saw, bersabda: “Bila kalian diperintah untuk maju maka majulah.” (Muttafaq alaih) Fatwa Ibnu Qudamah dlm Al-Mughni Syarhul Kabir 10/365-366.

3. Karena jihad hari ini adalah fardhu ain; diantaranya sebagaimana difatwakan kembali oleh syeikh Abdul Mun’in Musthafa Halimah (Buku Hukmul Islam fi Dimakratiyah) atau Syeikh Abu Qatadah dengan perkataannya :

”Ketahuilah bahwa jihad hari ini adalah fardhu ain bagi setiap muslim yang mampu. Maka jihad melawan kaum Yahudi hukumnya fardhu ain begitu pula jihad melawan para taghut Arab maupun Ajam yang telah mengganti hukum syariat, meghalalkan apa yang telah diharamkan, membantu msuush-musuh Allah dan membunuh kaum muslimin disebabkan mereka berpegang teguh pada agamanya”. (http:www.tawhed.com/abuqatada).

Maka orang-orang yang terkena hukum udzur dalam melakasankan faridhah ini mempunyai suatu kewajiban pengganti diantaranya adalah : Mendoakannya. Syeikh Abdul Qadir Abdul Aziz berkata :

“Doa kepada saudara-saudarnya yang sedang berhadapan dengan musuh merupakan kewajiban ain terbesar bagi orang-orang yang uzdur , yaitu doa untuk kemenangan dan kehinaan bagi musuh-musuh mereka.”. (I`dadul Umdah Fil Jihad Fisabilillah :27).

3. Perkataan Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah yang diungkapkan dengan syair:

Inilah kenyataan, menolong ad-din fardhun lazim
bukanlah fardhu kifayah bahkan fardhu ain
Baik menolong dg tangan atau dengan lisan, namun bilamana kondisi lemah
Maka dengan taujih serta doa yang kuat
Selain dari keseluruhan hal ini, WaAllah tidak ada sebutir imanpun yang tersisa

Beliau mengungkapakan ini pada sekitar tahun 700 H.! (Idadul Umdah 27)

4. Haji adalah ibadah yang sangat besar pengaruhnya pada setiap individu muslim terutama disaat thawaf . Tidak ada kedekatan dengan Allah, kekhusyuaan dan ribuan kerinduan bertemu dengan-Nya kecuali pada ibadah ini, ibadah di Masjidil Haram (shalatnya dinilai 100.000 shalat daripada masjid lainnya). Begitu kata beberapa teman saya menceritakan hajinya. Dari hasil bacaan buku-buku dan kisah nyata, rasa kekhusyuaan ibadah, waro dan begitu dekatnya dengan Allah seringnya hanya dirasakan di dua kondisi. Pertama orang yang berhaji dg sungguh-sungguh untuk mencapai mabrur (maka pahalanya adalaha jannah) dan orang yang akan syahid terbunuh dimedan jihad. Wallahu a`lam (Usyaqul Huur, DR. Abdullah Azzam, Jihad fi Tarbiyah wa Bina’)

Minimal ada tiga hadist yang yang menyebutkan tentang ibadah haji atau ibadah di Masjidil Haram dan jihad secara berdampingan.

a. “Rosululloh saw. Pernah ditanya; “Amalan apakah yang palilng utama?” Beliau menjawab: “Iman kepada Alloh dan Rosul-Nya”. Beliau ditanya lagi; “Kemudian apa? Beliau menjawab: “Jihad fii sabiilillah”. Lalu ditanya lagi: “kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji Mabrur.” (Muslim)

b. “ Perang di jalan Allah lebih utama dari 70 kali haji.” (Hadist ini dibacakan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah di Majmauz Zawaid 5/281).

c. Hadist Nu`man bin Basyir, ia berkata: “Ketika aku berada di mimbar Rasulullah saw tiba-tiba seseorang berkata: ‘Aku tak peduli, aku tidak akan melakukan amalan setelah Islam kecuali memberi minum kepada jamaah Haji’. Kemudian yang lain berkata: ‘Aku tidak peduli terhadap amalan setelah Islam kecuali meramaikan masjidil haram’. Dan yang lain menyahut : ‘Al-Jihad fi sabilillah adalah amalan yang paling afdhal dari apa yang kalian katakan tadi’. Maka Umar membentak dan berkata : ‘Jangan angkat suara kalian disisi mimbar Rasulullah saw padahal hari ini adalah hari jumat. Tetapi kamu jika shalat jumat, kamu meributkan apa yang kalian perdebatkan.’ Maka Allah azza wa jalla menurunkan firmannya : “Apakah orang-orang yang memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan hajji dan orang yang mengurus masjidil haram kamu anggap sama dengan orang-orang yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat serta berjihad di jalan Allah? (Akan tetapi) Mereka tidak sama disisi Allah”.’ (Muslim)

d. Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah seorang wanita mengadakan perjalanan kecuali bersama mahramnya.” Seorang laki-laki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah saw.! Sesungguhnya isteriku keluar untuk haji sedangkan aku ikut bersama pasukan dalam peperangan ini dan itu.” Rasulullah saw. bersabda, “Pergilah dan hajilah bersama isterimu.”

e. Rasulullah saw bersabda: ,” Aku melaksanakan ribath satu malam di jalan Allah lebih aku cintai dari pada aku melaksanakan qiyam Ramadhan pada malam Lailatul Qadar di sisi Hajarul Aswad.” (Majmu’ Fatawa 28/ dan Al Fatawa Al Kubra 3/531-532, Babun min Abwabil Jannah).

Dari sini disimpulkan bahwa haji (amalan yang sangat dicintai manusia) sangat dekat dengan jihad (apalagi dalam pembahasan Jihadnya wanita), Maka doa orang yang diberi fadhilah Allah untuk Haji kepada para mujahidin dan ahli tsughur sangat diharapkan oleh mereka. Hal ini dapat dibuktikan misalnya dengan permohonan yang amat sangat doa dari muslimin dan mujahidin di Checnya (www.qoqaz.net) dan permohonan doa dari mujahidin Iraq.

5. Kondisi sahatul jihad (medan jihad) yang selalu tidak menentu suasananya dalam tiap detik, tingginya gunung dan lembah yang harus dipotong (seperti yang dikatakan Allah dlm Taubah : memotong gunung !), kepanikan, kondisi kritis yang sangat sering teradidi puncak-puncak ribath menanti jatah suplay beras dan ikan asin yang tak kunjung tiba, suara mujahidin yang berteriak dengan keras di belantara hutan diirngi tangis karena tidak ada anastesy ketika kakinya yang terpotong (sekaligus terpanggang sumsumnya) oleh serpihan roket dijahit dengan jarum dan benang biasa oleh temannya yg sama sekali bukan doctor. Dan gambaran-gambaran lain yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata, sangat memerlukan doa yang dipanjatkan oleh mereka yang mendapat fadhilah ibadah Haji.

Filed under: makalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: