At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

PERMASALAHAN TENTANG BERHUKUM KEPADA TAGHUT [1]

diringkas dari buku : Masalatu tahakum ilat taghut
Pengarang : Abu Basyir
Penterjemah : Amru

Segala puji hanya milik Allah yang Esa, shalawat dan salam kepada nabi yang tidak ada nabi setelahnya.

Permasalahan berhukum pada taghut adalah permasalahan aqidah yang sangat penting karena bagian dari permasalahan iman dan kufur. Tidak boleh dan selayaknya diremehkan. Sedangkan manusia dalam permasalahan ini – dan juga yang lainnya- antara yang berlebihan dengan memasukkan hal-hal yang seharusnya tidak dimasukkan dalam berhukum terhadap taghut. Mereka lebih condong terhadap ghuluw [ berlebih-lebihan] dan berakhlaq dengan akhlaq khowarij entah mereka sadar ataupun tidak sadar.
Sedangkan kelompok yang lain sebaliknya. Mereka tidak memasukkan amalan-amalan yang padahal ia termasuk berhukum pada taghut. Mereka cenderung pada meremehkan dan irja’ serta berakhlaq dengan akhlaq murji’ah entah sadar ataupun tidak sadar.

Kelompok yang ketiga adalah pertengahan. Tidak pada pemahaman khowarij juga pada murji’ah. Allah Ta’ala memberi petunjuk mereka mereka pada kebenaran dalam permasalahan ini. Mereka berpegang teguh dengan al qur’an dan as sunnah tanpa ifrath dan tafrith. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kami dan kalian dari mereka.
Demikian pula manusia dalam membahas masalah ini ada tiga golongan : golongan yang membahas dan bertanya dalam rangka menolong madzhab mereka. Mereka bertanya dengan harapan mendapatkan jawaban yang mendukung madzhab mereka entah condong kepada ifroth atau tafrith. Kemudian mereka berkeliling di bumi dan mengatakan inilah kami ….. !.

Kelompok ini membahas dan bertanya untuk menolong kedholimannya terhadap orang-orang yang didholimi[kaum muslimin]. Dengan makna lain bahwa menolong hak-hak orang yang terdholimi [kaum muslimin] dengan jalan yang tidak pas dianggap berhukum terhadap toghut dan itu dianggap sebagai kekufuran dan kesyirikan. Maka tidak ada jalan lain bagi orang-orang yang terdholimi kecuali dua hal : entah ia ridho dengan pendholiman serta diam dari kedholiman tersebut, atau membiarkan kedholiman tersebut dalam bentuk apapun. Jika ia tidak berbuat demikian maka ia akan terjerumus dalam kekufuran dan kesyirikan dan keluar dari millah berdasarkan pendapat yang ektrim. Jika ia ingin menuntut haknya dengan jalan yang dianggap tidak syar’i, maka ia telah berhukum terhadap taghut. Kelompok ini adalah kelompok yang sangat jelek dibandingkan seblumnya. Maka hendaknya bagi siapa saja yang memberi fatwa pada mereka tentang hal ini harus benar-benar cerdas agar tidak timbul fitnah dikemudian hari.

Kelompok yang ketiga ini, mereka bertanya dengan tujuan untuk mengetahui kebenaran. Atau untuk menjawab syubhat yang datang dari dua kelompok sebelumnya. Kelompok inilah akan kami bahas dalam pembahasan ini. Kalau bukan karena mereka tidaklah akan kami tulis pembahasan ini. Sudah diketahui bahwa pembahasan ini telah kami tulis berkali-kali pada beberapa kitab kami. Akan tetapi banyak diantara kaum muslimin yang belum bisa memahaminya. Maka kami terdetik untuk membuat satu makalah khusus agar mudah dipahami dan mudah merujuk padanya bagi para ihwah yang menginginkannya. Dan hanya kepada-Nyalah kita bersandar.

Pengertian berhukum pada taghut
Maka aku katakan : semua ini aku lakukan supaya kita tahu apa batasan membela hak-hak kaum muslimin dengan hal-hal yang termasuk berhukum terhadap taghut. Terlebih dahulu kami akan sampaikan bentuk berhukum pada taghut yang mengeluarkan pelakunya dari millah. Semuanya jelas dalam firman Allah Ta’ala :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيداً . وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُوداً النساء:60-61.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut , padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka : “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Sebab turunya ayat ini : berkata Ibnu Jarir At Tobari dalam tafsirnya : ayat ini turun kepada seorang munafiq yang mengajak seorang yahudi tentang satu perselisihan untuk menyelesaikan kepada sebagian dukun, sedangkan rasulullah sallallahu alaihiwasallam diantara mereka.

Dan dikatakan, bahwasanya dukun tersebut adalah Abu Bardah al kahin al aslami, sebagian lain mengatakan bahwa taghut dalam ayat ini adalah orang yahudi Ka’ab bin Asyrof. Ibnu jarir telah menyandarkan riwayat yang menjelaskan hal ini. Lihat dalam tafsir beliau.

Imam As Sa’di rahimahullah : barang siapa menyangka bahwasanya ia seorang mkmin, dan memilih hukum taghut atas hukum Allah maka ia dusta dengan pengakuanya tersebut.

Ibnu Katsir juga menjelaskan : ini adalah pengingkaran dari Allah ‘Azza wajalla orang yang mengaku beriman dengan apa-apa yang Allah turunkan lewat Rasul-Nya dan kepada para nabi-nabi sebelumnya. Dan dia bersamaan dengan itu ingin berhukum dalam perselisihannya dengan selain kitab Allah sunnah nabi-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebab turunnya ayat ini, bahwa ada perselisihan antara seseorang dari anshor dengan seorang yahudi. Maka orang yahudi berkata, perselisihan kita, kita serahkan pada Muhammad.

Sedangkan yang satunya berkata, perselisihan kita, kita serahkan pada Ka’ab bin asyrof. Dikatakan bahwa ini adalah sekelompok dari orang-orang munafiq yang menampakkan keislamannya, ingin untuk berhukum pada hukum jahiliyah. Sebagian lagi mengatakan bahwa ayat ini lebih umum dari pada pendapat pertama. Ia adalah ancaman bagai siapa saja yang berpaling dari kitab dan sunnah dan berhukum kepada selain keduanya dari sebuah kebatilan, dan itulah yang dimaksud dengan toghut di sini. Sedangkan “menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Yaitu berpaling darimu dengan sekuatnya seperti sombong dari hal tersebut. [ Tafsir Ibnu katsir dengan terjemahan bebas].

Dari penjelasan ayat diatas dengan tafsirnya, jelaslah bagi kita sifat berhukum pada taghut dengan beberapa catatan :
1. Adanya penguasa muslim yang menerapkan hukum dengan apa yang diturunkan Allah Ta’ala. Dan pemerintah mewajibkan rakyat untuk menggunakan pengadilan tersebut. Keadaan ini adalah sebagaimana masa rasulullah sallallahu alaihiwasallam.
2. Berpalingnya dari hukum yang telah diturunkan Allah padahal ada pengadilan Islam.
3. Kehendak untuk berhukum kepada selain Allah adalah dari dirinya sendiri tanpa paksaan. Serta lebih mendahulukan dibanding berhukum dengan apa yang Allah Ta’ala turunkan. Padahal mudah baginya untuk berhukum kepadanya.
4. Menghalang-halangi untuk berhukum kepada apa yang Allah turunkan. Ketika diarahkan untuk berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka menghalangi dan mencegah orang lain serta berkehendak untuk berhukum pada taghut.

Maka barang siapa masuk dalam sifat-sifat yang telah disebutkan pada ayat di atas, dan juga dijelaskan para hali tafsir, maka merekalah yang dihukumi dengan kekafiran dan keluar dari millah Islam.

Sedangkan dalam kondisi hilangnya pengadilan Islam, dan hilangnya penguasa muslim yang memutuskan diantara manusia dengan hukum yang telah Allah turunkan; sedangkan kaum muslimin dipaksa untuk menuntut hak-hak mereka dengan mahkamah taghut. Dalam kondisi tersebut banyak ummat yang takut untuk mengkufuri hukum tersebut. Sementara mereka takut untuk menyatakan bahwa hanya hukum islam yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan.

Dalam kondisi inilah kaum muslimin harus menuntut hak-hak mereka yang dirampas, menolak berbagai kedholiman yang dilakukan. Umat pun tidak punya pilihan dalam menuntu hak-hak mereka kecuali dengan jalan ini. Maka disinilah berlaku sebuah qo’idah Ad dhoruroot tubihul mahdhuroot [ kondisi darurat membolehkan hal-hal yang dilarang ].

Maka sangat tidak pas jika kemudian mereka dihukumi berhukum pada taghut, berpaling dari hukum Allah Ta’ala, dan lebih ektrim lagi dituduh dengan si kafir. Jika demikian, mereka telah mengkafirkan kebanyakan kaum muslimin yang hidup pada pemerintahan sekuler saat ini. Sungguh perbuatan ini tidaklah dilakukan kecuali oleh seseorang yang berpikiran khowarij. [ berlanjut insyaAllah ]

Filed under: Manhaj

6 Responses

  1. himmah aliyah mengatakan:

    assalamu’alaikum…
    saya masih bingung tentang pembahasan ini dan ingin bertanya beberapa hal, mohon penjelasannya.
    1. sudah jelas bahwa di negri ini hukum yg dipake bukan hukum Allah (undang-undang kafir),bagaimana dengan muslim yg terlibat dalam pembuatan UU tsb, apakah mereka secara mutlak dihukumi kafir? (ex. mantan ketua MPR)
    2. atau kita harus melihat mereka secara personal (takfir muayyan)?
    3. dalam mengkafirkan seseorang, ahlusunnah wal jama’ah memperhatikan rambu2 diantaranya “Berhati-hati dalam menta’yin kafir atas seseorang, tdk spt khawarij yg berlebihan dan tdk spt mur’jiah yg meremehkan”. Mohon penjelasannya ttg rambu2 ini ustadz…
    4. oya satu lagi, harokah2 yg ada di indonesia saat ini manakah yg termasuk berlebihan dalam hal takfir dan manakah yg termasuk meremehkan
    mohon jawabannya ustadz, kalau dirasa perlu bisa ke email himmah_aliyah86@yahoo.co.id
    jazakumulloh khoiron
    wassalamu’alaikum

    • admind mengatakan:

      wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
      afwan, karena kondisi ana yg tidak stabil, sehingga baru bisa balas pertanyaan ant.

      1 & 2. kafir secara umum ya. jadi para pembuat hukum selain hukum Allah adalah kekafiran. untuk lebih jelasnya ant bisa baca buku abu basyir : a’malun tuhriju shohibaha ‘anil millah. akan tetapi untuk ta’yin perlu syarat diantaranya :
      – ia adalah seorang a’lim yang memahami ilmu syar’i.
      – dia juga harus paham dengan keadaan orang tersebut dari mawani’ut takfir.
      sehingga seorang muslim harus hati-hati untuk mengkafirkan saudaranya, kecuali memang telah dikafirkan seorang a’alim yang setelah melihat bukti-bukti yang nyata.

      2. untuk menjelskan hal tersebut perlu penjelasan panjang. ana belum bisa menjawabnya sekarang. tapi kalau ant bisa basa bhs arab ada berbagai kitab yg menjelaskan tema tema tsb.
      – ضوابط تكفير المعين عند شيخي الإسلام ابن تيمية وابن عبدالوهاب dll

      3. ant bisa melihat sendiri dari beberapa sikap harakah-harakah tsb. berat bg ana tuk menghukumi, kerana kadang yang menjadikan pemikiran tsb berkembang adalah adanya beberapa personilnya.

      waAllahu a’lam bis shawab.

  2. abu yasin mengatakan:

    assalamu’alaikum wr. wb.
    saya seorg pns, dg kedudukan ini ada beberapa undang-undang dan peraturan pemerintah serta keputusan menteri yg harus kami pedomani dan jalankan, tentu bila ada pelaggaran thdp aturan tersebut pasti konsekuensi sanksi yg harus diterapkan. yg saya tanyakan :
    1. apakah dg posisi seperti ini saya sdh termasuk pembela hukum thogut? dan bagaimana hukumnya menurut Al-quran dan assunnah
    2. apa hukumnya peghasilan/gaji yg diperoleh setiap bulannya?
    3. jika hal-hal yg saya lakukan tersebut termasuk kondisi darurat yg membolehkan hal-hal yg dilarang, mohon penjelasan mengenai batasan-batasan darurat yg diboolehkan.

    jazzakumulloh khairon
    wassalamu’alaikum wr. wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: