At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Tegar Dalam Perjuangan

Jama’ah shalat jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala
Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karuniaNya yang tak terhinggal dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jum’ah.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita Nabi Muhammad, yang melalui perjuangannyalah, cahaya Islam ini sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan, dan kehinaan. Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah semuanya, agar kita selalu meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.

Jama’ah jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala
Kehidupan manusia di dunia ini tidak akan terlepas dari ujian, karena ujian adalah sunnatullah. Sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3).

Dalam ayat di atas Allah Ta’ala menyatakan bahwa keimanan yang telah kita ikrarkan akan diuji oleh Allah Ta’ala. Ada ujian kesempitan dan ketidak senangan, akan tetapi juga ada ujian kesenangan dan kenikmatan. Terkadang ujian kesenangan itu lebih berat dibandingkan ujian kesusahan. Berapa banyak orang yang tidak lulus dalam perjungannya karena fitnah harta, wanita atau bahkan tahta. Dulunya yang tegas dan lugas dalam penyampaian, kemudian berubah menjadi lentur dan tidak memiliki prinsip. Dari ujian yang diberikan ini akan dapat diketahui apakah keimanan yang kita ikrarkan itu benar atau dusta.

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah!
Mereka yang tegar dalam ujian

Keimanan bagi seorang muslim adalah sesuatu yang sangat bernilai harganya. Dengan keimanan, amalan dan perbuatan seseorang menjadi bernilai di hadapan Allah Ta’ala. Karena itu, Islam menganjurkan agar seorang muslim mempertahankan keimanan ini dari segala hal yang dapat menghancurkannya. Jangan sampai hanya karena perkara dunia, lalu kita harus menggadaikan keimanan kita.

Dalam hal ini, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah memberikan contoh kepada kita betapa beliau tegar dan tegas dalam mempertahankan keimanan ini. Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mendapat tawaran dari orang kafir untuk mengadakan ibadah bersama, satu hari bersama orang muslim dan hari yang lain bersama orang kafir, maka dengan tegas Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menolak tawaran yang merusak keimanan ini. Hal ini sebagaimana wahyu yang telah Allah Ta’ala turunkan kepada beliau dalam surat Al-Kafirun ayat 1–6,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)
“Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang aku sembah, Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.”

Demikian pula yang dikatakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam manakala pamannya, Abu Thalib, menyampaikan permintaan orang kafir agar beliau menghentikan dakwahnya. Maka, beliau bersabda, “Demi Allah, wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, maka aku tidak akan meninggalkannnya, sehingga Allah menampakkannya atau menghancurkan yang lain.”

Kita bisa melihat betapa tegasnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam mempertahankan keimanan ini. Maka, apa yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ini kemudian memberikan pengaruh yang cukup lekat di hati dan sanubari para sahabat, sebagaimana yang terjadi dalam Perang Khandaq. Di saat orang munafik hampir saja mengadakan perdamaian dengan kabilah Banu Ghatfan dengan memberi sepertiga hasil kurma Madinah. Maka, berkatalah dua Sa’ad, yaitu Sa’ad bin Muaz, pemuka suku Aus, dan Sa’ad bin Ubadah, pemuka suku Khazraj: “Ya Rasulullah, dahulu ketika kami dan mereka masih dalam keadaan menyekutukan Allah dan menyembah berhala dan mereka tidak pernah menerima kurma dari kami selain dengan jalan hutang atau beli. Apakah kini setelah Allah memuliakan kami dengan Islam dengan memberi petunjuk kami kepada Islam serta kami bangga dengan engkau dan Allah akan kami berikan harta kami kepada mereka? Demi Allah, kami tidak perlu berdamai. Demi Allah, kami tidak rela memberikan kepada mereka sesuatu selain pedang, sampai Allah memutuskan sesuatu antara kami dan mereka.”

Peristiwa ini lalu dikomentari dalam beberapa kitab tafsir: “Tidaklah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam meridhai perdamaian itu, melainkan beliau ingin menguji keteguhan orang-orang Anshar, ketabahan hati, dan kekuatan izzahnya. Maka, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melihat pada dua Sa’ad ini apa yang menyenangkan hatinya.”

Demikian pula yang dilakukan oleh Ka’ab bin Malik manakala diboikot oleh kaum muslimin karena tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Selama 50 hari tak ada seorang pun yang menyapa, menegur, memberi salam, dan menjawab salamnya. Maka bumi ini terasa begitu sempit baginya. Lalu manakala ia tengah berjalan-jalan di pasar, ia mendapati seorang petani dari Syam yang biasa menjual makanan di pasar Madinah bertanya: “Siapakah yang suka menunjukkah kepada saya Ka’ab bin Malik.” Maka semua orang yang ditanya menunjuk kepada saya. Kemudian orang itu mendekati saya sambil membawa sepucuk surat dari Raja Ghassan yang didalamnya berisi, ” Sebenarnya saya telah mendengar bahwa kamu telah diboikot oleh teman-temanmu dan Allah tidak menjadikan kamu orang yang terhina, maka datanglah kepada kami tentu kami akan menerimamu. Apakah yang dilakukan oleh Ka’ab mendapat tawaran seperti itu? Apakah ia akan menjual agamanya, apakah dia akan bergabung dengan orang-orang kafir dan mencari kemulaian di sana, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang?” Tidak, tetapi yang dikatan oleh Ka’ab adalah: “Ini juga sebagai ujian.” Lalu ia pergi ke tempat api dan membakar surat itu. Mengapa ia membakar surat itu? karena ia tahu bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah. Jama’ah jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala
Dari beberapa kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa ujian kesenangan itu lebih berat dibandingkan kesempitan. Berapa banyak orang berguguran dari jalan perjuangan dikarenakan harta yang melimpah. Berapa banyak orang yang tidak sanggup lagi untuk memikul beban islam ini dikarenakan sibuk mengurus harta dan juga keluarga.

Jika seseorang tidak sanggup untuk menghadapinya, bisa jadi ia akan menjauh dari islam dan bahkan akan terlepas ikatan islam dari dirinya. Ditinggalkannyalah ikatan islam dan lebih condong pada kenikmatan dunia yang fana dan menipu ini.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa berdo’a pada Allah Ta’ala agar kita diluluskan dalam berbagai ujian ini. Dimampukan untuk tegar ketika menghadapi berbagai tekanan hidup, hingga mendapatkan kebahagiaan abidi yaitu jannah di akhirat. Diantara do’ yang diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Wahai yang membolak-balikkan hati, kuatkanlah hatiku di atas diin-Mu. [ HR. Ahmad ].

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Filed under: khotbah jum'ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: