At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

ANAK SHALIH ASET ORANG TUA

Jamaah jum’ah rahimakumullah
Segala puji milik Allah yang telah menciptakan kita dengan sebaik-baik ciptaan. Dan memberi kita akal untuk membedakan antara yang haq dan batil. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan pada junjungan kita nabi Muhammad  yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang disinari cahaya Islam.

Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya. Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa. Menurut Sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

تَزَوَّجُوا الْوَلُوْدَ وَالْوَدُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ.
“Nikahilah wanita yang penuh dengan kasih sayang dan karena sesungguhnya aku bangga pada kalian dihari kiamat karena jumlah kalian yang banyak.” [HR. Abu Daud dan An Nasa’I, kata Al Haitsamin].

Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak akan kita arahkan setelah mereka lahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan. Ada sebuah sya’ir arab mengatakan :

تَرْجُوْ النَجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا
اِنَّ السَفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلَى اليَبَسِ
Kalian mengharap sebuah keberhasilan # tetapi kalian tidak mau menempuhnya
Sesungguhnya kapal itu tidak akan berjalan di daratan.

Yang lebih parah lagi adalah orang tua yang menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film (Artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik semua itu mereka kering informasi tentang kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hancurnya rumah tangga mereka, hidup dalam ketidak tenangan dan berbagai masalah sosial yang mereka hadapi. Ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini.

Jamaah jum’at rahimakumullah
Kehidupan sebagian besar selebritis yang banyak dipuja orang itu tidak lebih seperti kehidupan binatang yang tak tahu tujuan hidupnya selain hanya makan dan mengumbar nafsu birahi. Hura-hura, pergaulan bebas, miras, narkoba dan gaya hidup yang serba glamour adalah konsumsi sehari-hari mereka. Sangat jarang kita saksikan di antara mereka ada yang perduli dengan tujuan hakiki penciptaan Allah Ta’ala. Kalaupun ada, itu hanya menjadikan ritualisme sebagai alat untuk meraih tujuan duniawi, untuk mengecoh masyarakat tentang keadaan mereka yang sebenarnya. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya ?. Kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( At Tahrim :6)

Banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi. Mencarikan kursus-kursus mata pelajaran umum agar nilai akhirnya memuaskan. sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TP Al-Qur’an terasa begitu berat. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak.

Banyak orang tua yang memperhatikan masalah makan anaknya, dicarikannya makanan empat sehat lima sempurna, pakaian dipilihkan yang mahal dan bergengsi. Sementara makanan batin tidak pernah diperhatikan. Mereka larang anak-anak mereka untuk mempelajari din islam takut jika mengganggu belajarnya dan menjadikan nilai sekolahnya anjlog. Perlu dipahami bahwa anak dan orang tuanya tidak akan pernah bahagia dunia akhirat jika tidak memiliki bekal-bekal agama yang baik.

Jamaah jum’at rahimakumullah.
Sebagian orang tua yang bijaksana, ia mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya melahirkan anak yang shalih. Diantara langkah tersebut adalah :

1. Opini atau persepsi orang tua atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda:

إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.
Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)

Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita semua mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak yang sejak kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala, dan menjauhi larangan-laranganNya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan DienNya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala dan senang bermaksiat kepada-Nya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada Allah dan durhaka pada kedua orang tuanya.

Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , menjauhi larangan-laranganNya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan.

2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih.
Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitasnya. Ia bisa membentuk karakter seseorang untuk menjadi baik ataupun sebaliknya. Salah satu faktor dari lingkungan adalah teman dekat. Rasulullah  bersabda dalam hadisnya :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ »
Dari Abu Hurairah  dari nabi  bersabda : seseorang itu atas din saudaranya. Maka lihatlah salah seorang diantara kalian, siapa yang ditemani. (HR. Ahmad).

Bahkan Imam Hasan al Bashri berkata :
إِخْوَانُنَا أَغْلَى عِنْدَنَا مِنْ أَهْلِيْنَا فَأَهْلُوْنَا يُذَكِّرُوْننَاَ الدُنْيَا ، وَإِخْوَانُنَا يُذَكِّرُوْنَنَا بِالْآخِرَةِ
Saudara-saudara kami lebih berharga untuk kami dibandingkan keluarga kami. Karena keluarga kami senantias mengingatkan kami tentang dunia, sedangkan saudara-saudara kami senantiasa mengingatkan kami tetang akhirat.

Betapa pentingnya lingkingan dan teman dekat sehingga Imam Hasan Al Bashri lebih menganggap mahal dibandingkan keluarga.

Jama’ah jum’at rahimakumullah
Sedangkan secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
a. Lingkungan keluarga. Keluarga merupakan sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya.

Jama’ah jum’at rahimakumullah

Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna keIslaman, seorang bapak dan ibu yang memahami bagaimana membentuk rumah tangga yang islami, mendidik anak-anaknya, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna keIslaman tersebut. Namun sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai keIslaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral.

Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري).
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari).

Para ulama’ menjelaskan bahwa fitrah disini adalah mengenal Islam. Artinya, seorang anak secara naluri mengenal Islam. Akan tetapi orang tuanyalah yang akan memelihara fitrah tersebut, dengan mentarbiyahnya menjadi muslim yang baik, atau menghancurkannya dengan memberikan pendidikan yang jauh dari Islam.

b. Lingkungan Sekolah. Sekolah adalah sebuah lingkungan yang sangat berpengaruh pada pendidikan anak. Jika orang tua tepat dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya, Sekolah yang di dalamnya tercipta lingkungan islami, para guru yang paham tentang pakain muslim dan muslimah, paham tentang akhlaq-akhlaq islami dan mengajarkan pemahaman yang benar pada murid-muridnya, maka orang tua telah tepat dalam membina anaknya. Tapi sebaliknya, jika orang tua memilihkan untuk anak-anaknya sekolahan-sekolahan sekuler, guru-guru yang memiliki keyakinan bermacam-macam, mulai dari ahli syirik, ahli maksiat dan bahkan guru-guru kafir, tidak paham bagaimana berbusana muslim dan muslimah, guru yang berakhlaq bejat; maka sebenarnya orang tua menjerumuskan anaknya kedalam lumpur kehinaan dan kehancuran.

Jama’ah sholat jum’at yang dimulyakan Allah Ta’ala
Oleh sebab itu, orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak boleh memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan agama dan akhlaq bagi sang anak. Ingatlah bahwa sekolah akan memberi warna baru bagi setiap anak didiknya, entah itu warna yang baik maupun warna yang jelek. Dan kita pada bulan-bulan ini harus memilihkan sekolah yang paling baik untuk anak kita. Maka pilihlah yang paling mampu untuk membina mereka semakin bertaqwa dan takut pada Allah Ta’ala.

Ibnu sirin berkata :
إِنَّ هَذَالْعِلْمَ دِيْنٌ, فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِيْنَكُمْ.
Sesungguhnya ilmu ini adalah diin. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil din kalian. [Muqodimah Shohih Muslim 1/15].

Jamaah jum’ah rahimakumullah
Untuk itu, di akhir khutbah ini marilah kita bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah Ta’ala akan senantiasa menurunkan pertolongan-Nya kepada kita dan memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya. Marilah kita berdo’a kepada Allah Ta’ala .

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ.

Khutbah kedua.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ بِكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ

Filed under: khotbah jum'ah

One Response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: