At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

NEGERI DEMOKRASI MEMBERANTAS KORUPSI

Berita yang menghiasi berbagai media hari ini berkisar tentang kurupsi. Mulai dari larinya para tersangka korupsi keluar negeri sampai pada orang-orang yang terduga korupsi dan baru status diperiksa sudah lari agar tidak terjerat sebagai tersangka. Seakan negeri ini tidak berdaya ketika menangani korupsi saat korupsi tersebut terkait dengan kepala negara atau presiden.

Lihatlah kasus centuri, seakan hilang ditelan zaman. Padahal para tokoh pemerintahan sudah sepakat untuk menyelaisaikan sampai keakar-akarnya. Hal tersebut dikarenakan banyak para pendamping presiden dan juga presideng sendiri yang akan terimbas oleh kasusu century jika dilanjutkan.

Yang paling hangat adalah kasus Muhammad nazarudin yang lari ke singapura. Padahal dia masih dalam proses pemeriksaan oleh KPK. Keberangkatannyapun seakan sudah direkayasa yaitu dua jam persis sebelum pemberhentiannya sebagai bandahara umum partai demokrat. Setelah itu gencar pemberitaan bahwa partai demokrat melindungi nazaruddin. Demokratpun berang dan dikirimlah utusan untuk menemui rekannya tersebut di singapura. Tetapi utusan tersebut pulang dengan tangan hampa. Ada sebuah vidio nazarudinpun muncul di you tobe. Ia mangatakan ” jangan aku dikambing hitamkan, karena kita semua merasakan“. Perkataannya menunjukkan bahwa seluruh jajaran partai dan bahkan juga presidennya juga merasakan hasil dari korupsinya.

Negara Republik Indonesia, memiliki 240 juta penduduk, memiliki pemerintahan di pimpin Presiden SBY, dan Presiden memiliki kewenangan yang diatur undang-undang , memiliki perangkat negara, seperti polisi, hakim, jaksa, tentara, intelijen, dan lembaga negara lainnya, diantaranya departemen luar negeri, departemen hukum dan perundang-undangan, imigrasi, dibayai APBN ratusan triliun rupiah, tetapi semuanya seperti lumpuh, dan tak ada satupun yang berguna, ketika menghadapi kasus korupsi yang ada kaitannya dengan pemimpin negara.

Janji Presiden SBY yang ingin menegakkan keadilan, dan menegakkan hukum, hanyalah klise belaka. Penegakkan hukum hanya menjadi sebuah retorika politik. Tidak ada implementasinya. Penegakkan hukum yang ada hanyalah semacam janji-janji kosong. Dalam kontek kasus yang melibatkan petinggi negara, hukum dan keadilan telah diinjak-injak. Hukum dan keadilan hanyalah dijadikan keset, dan tidak dihargai.

Inilah gambaran negeri demokrasi yang kita tempati ini saat mereka punya komitment untuk memberantas korupsi. Slogan-slogan “ganyang koruptor” yang disuarakan semenjak reformasi hanya menyentuh ranah orang-orang bawah. Atau kalau pejabat, ya pejabat yang tidak berada di sekitar presiden. Akhirnya hukum bisa dipolitisasi, dan dibeli.

Islam dalam penerapan hukuman
Islam adalah agama yang sempurna. Menghukumi seseorang di dunia atas kesalahan yang dilakukan tidak pandang bulu. Jika anak seorang pemimpin negara bersalah maka akan tetap dihukum. Tidak perduli entah ia rakyat biasa atau pejabat. Semua dihukum dengan seadil-adilnya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
42.138/3216. Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah bercerita kepada kami Laits dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhu bahwa orang-orang Quraisy sedang menghadapi persoalan yang mengelisahkan, yaitu tentang seorang wanita suku Al Makhzumiy yang mencuri lalu mereka berkata; Siapa yang mau merundingkan masalah ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?. Sebagian mereka berkata; Tidak ada yang berani menghadap beliau kecuali Usamah bin Zaid, orang kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Usamah pun menyampaikan masalah tersebut lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apakah kamu meminta keringanan atas pelanggaran terhadap aturan Allah?. Kemudian beliau berdiri menyampaikan khuthbah lalu bersabda: Orang-orang sebelum kalian menjadi binasa karena apabila ada orang dari kalangan terhormat (pejabat, penguasa, elit masyarakat) mereka mencuri, mereka membiarkannya dan apabila ada orang dari kalangan rendah (masyarakat rendahan, rakyat biasa) mereka mencuri mereka menegakkan sanksi hukuman atasnya. Demi Allah, sendainya Fathimah binti Muhamamd mencuri, pasti aku potong tangannya. [ HR. Muttafaq alaihi ].

Hukum islam tidak hanya mengarahkan pada takutnya seseorang terhadap hukuman dunia. Tetapi mengarahkan pada warganya untuk lebih takut pada hukuman di akhirat. Jika orang yang bersalah lolos dari hukuman di dunia, tetapi ia tidak akan lolos dari hukuman Allah Ta’ala di akhirat. Jadi, hukman yang sifatnya had pada seseorang di dunia sebenarnya membantu dia dalam proses pertaubatan dan juga meringankan hukuman dia di akhirat.

Tidak ada sebuah sanksi yang menjadikan jera seseorang dan menjadikan jera pelakunya dari kesalahan kecuali islam. Karena hukuman di dalam islam tidak hanya menjatuhkan fonis, akan tetapi juga mendidik agar pelakunya bertaubat kepada Allah Ta’ala. Jika negeri ini ingin agar para koruptor jera, tidak ada lain kecuali dengan menerima hukum islam dalam menata dan mengatur kehidupan rakyatnya. [ Amru ].

Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: