At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

MERENUNGI HASIL JIHAD ASIA TENGGARA PASCA 11 SEPTEMBER 2001

Dunia tercengang ketika menyaksikan sebuah tagedi 11 September 2001. Dengan adanya serangan terhadap menara kembar World Trade Centre dan Markas Besar Angkatan Bersenjata Pentagon Amerika yang terkenal begitu ketat. Amerika sebagai negara super power merasa kecolongan dengan peristiwa ini. Sehingga berbagai tuduhan-tuduhan dilontarkan kepada kelompok militan Islam. Amerika menunuduh Al Qoida dan jaringan-jaringannya ada dibalik serangan tersebut.

Genap setahun tragedi di Amerika, dunia tercengan kembali dengan adanya bom Bali yang telah menewaskan ratusan orang dan meluluh lantakkan Bali. Amerika dan sekutunya kembali melontarkan tuduhan bahwa militan Islam dibawah kendali Al-Qaida ada dibalik pengeboman tersebut.

Mulai saat itulah Amerika menjadikan musuh utamanya teroris ” Umat islam” yang menegakkan kembali kehilafahan di bumi dengan dakwah dan jihad. George W. Bush menjadikan “war against terrorism” sebagai salah satu bagian dari Strategi Keamanan Nasional AS 2002 (National Security Strategy/NSS). Dan upaya AS memberantas mujahidin ini tidak terbatas pada wilayah teritorial AS saja, tetapi juga diseluruh penjuru dunia, dimana kelompok-kelompok jihad ada. Afganistan bukanlah satu-satunya wilayah dimana AS berusaha menangkap dan menghancurkan taliban dan Al-Qaeda. Tetapi ribuan kelompok organisasi jihad dan perjuangan yang terlatih secara militer dan sebagian besar diantaranya merupakan jaringan Al-Qaeda, telah tersebar di berbagai kawasan seperti belahan benua Amerika utara dan selatan, Eropa, Afrika, Timur Tengah, serta Asia menjadi sasaran peperangan ini.

Asia Tenggara sebagai “The Second Front”

Dengan ditetapkannya Al-Qaeda sebagai tersangka utama serangan 11 September dan resmi ditetapkannya Jemaah Islamiah (JI) sebagai jaringan Al-Qaeda, menjadi legitimasi AS untuk masuk ke berbagai wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Maka tidak ada lagi yang dapat menghentikan perluasan kehadiran militer AS di Asia Tenggara, dimana AS mengklaim Asia Tenggara didiami banyak kelompok/jaringan Al-Qaeda serta sangat kawasan yang subur bagi pertumbuhan dan perkembangan teroris. Bahkan secara tidak langsung, sejak PBB belum menetapkan JI sebagai jaringan Al-Qaeda, AS telah lebih dahulu menetapkan kawasan Asia Pasifik sebagai prioritasnya untuk melawan terorisme internasional dengan program yang disebut “United States-Pacific Command (USPACOM)”.

Amerika tidak hanya menjadikan JI di Indonesia sebagai organisasi yang diburu. Tetapi juga memasukkan oramas-ormas Islam seperti Fron Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)}, Malaysia {Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM)}, dan Singapura {Jemaah Islamiah (JI) serta kelompok Abu Sayaf dan juga gerakan perjuangan Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Philipina selatan sebagai oraganisasi teroris.

Dengan misi perang melawan terorisme ini seakan-akan negara-negara di asia tenggara ini bersatu untuk memberikan dukungan terhadapnya. Mulai dari pelabuhan, diperbolehkannya Amerika untuk melintas wilayah udara dan juga pelatihan perang terhadap negara-negara tersebut.

Filipina dengan konkrit menerima pasukan AS ke wilayahnya meskipun dengan dalih “joint exercise”. Dimulai dengan pengerahan pasukan AS ke Filipina dalam program Baliktan 02-1. Akhir January 2002, AS mulai menyebarkan tentaranya ke Filipina dengan jumlah kurang lebih 660 personel yang terdiri atas 160 orang pasukan khusus (dimana 85 orang diantaranya dipersiapkan untuk melatih tentara Filipina dengan level sersan), ditambah dengan 500 personel untuk support dan teknisi. Program “Balikatan 02-1” ini menindaklanjuti kesepakatan Filipina-AS untuk mengadakan “training exercise” selama kurang lebih 6 bulan di pulau Basilan, tempat dimana kelompok Abu Sayyaf beroperasi.
Sedangkan Singapura dukungan logistik yang cukup besar bagi militer AS dengan menyediakan akses pangkalan bagi pesawat dan kapal-kapal laut AS.Hubungan militer antara Singapura dan AS terhitung meningkat, meskipun tidak ada perjanjian aliansi diantaranya. Sejak Maret 2001, pemerintah Singapura telah memberikan fasilitas tempat bagi kapal perang AS di pangkalan Angkatan Laut Changi – Singapura, yang mulai dibangun seluas 86 hektar diatas selat Malaka yang merupakan jalur laut tersibuk di dunia.
Sementara Indonesia menyediakan tim detasemen 88 milik Polri untuk dilatih dan di danai oleh oleh Amerika. Hal ini berdasarkan pernyataan Dai’I bahtiar ketika masih menjabat menjadi kapolri sebagaimana yang beredar di you tube. Inilah bentuk kerjasama Amerika dengan negara-negar di Asia Tenggara dalam misi perang melawan teroris.

Evaluasi jihad asia tenggara
Dengan melihat usaha serius Amerika dan antek-anteknya di Asia Tenggara, tentunya jihad yang serius dan terpadu juga harus dilakukan oleh para pengusung jihad ini. Jangan hanya dilakukan serampangan dan hanya menjadikan musuh luka, sementara musuh menghantam dengan keras terhadap jihad ini.

Hampir kebanyakan jihad yang dilakukan di Asia Tenggara ini masih bersifat jihad nikayah. Yaitu aksi-aksi sesaat dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Aksi tersebut kadang kurang begitu menguntungkan bagi sebuah usaha menegakkan syari’at di bumi.

Lebih parah lagi jika kemudian para pengusung jihad nikayah ini memisahkan antara jihad dengan dakwah tauhid, maka bisa jadi akan terjadi jihad yang serampangan dengan akidah yang amburadul pada barisan kaum muslimin.

Ingatlah bahwa jihad untuk tegaknya diin dan dan tamkin membutuhkan usaha yang serius dan berkesinambungan. Jihad harus saling menyempurnakan dengan dakwah tauhid. Tidak memusuhi atau memisahkan darinya. Karena dengan dakwah tauhid akan menyiapkan jalan bagi jihad, menjelaskan hakekat, target, dan tujuannya. Amal ini juga menjadi modal dan bekal bagi jihad dengan membentuk lelaki tulus dan bertauhid untuk menjadi bahan bakarnya. Dakwahlah yang akan menyiadakan panglima rabbani dan ulama’ ‘amilin fisabilillah. Merekalah yang akan mengarahkan jihad ini serta melindunginya dari penyimpangan sampai para mujahidin memetik dengan tangan mereka yang bersih.

Jihad juga tidak boleh meremehkan para da’I yang beramal dengan tenang ditengah keluarga dan masyarakat, berupaya keras memahamkan mereka akan realitas dan mengeluarkan mereka dari kegelapa syirik kepada tauhid. Atau juga para da’I yang serius dalam membina para anak muda di atas tauhid dan mempersiapkan mereka untuk berjihad di jalan-Nya.

Juga para penuntut ilmu yang mengerahkan waktunya di siang dan malam hari untuk membantah para pencela tauhid dengan tilisan dan ceramahnya. Dialah yang mengarahkan para ihwah untuk menyiapkan ilmu dan pemikiran serta memberikan pemahaman kepada mereka. Semua itu mereka lakukan agar dakwah ini melahirkan para mujahid yang lurus dan shalih yang pantas memimpin umat dan mengarahkan laju jihad ke arah yang diridhoi Allah Ta’ala.

Juga orang-orang yang telah menyebarkan dakwah yang mulia ini lewat percetakan, majalah, penerbitan maupun mendistribusikan dalam bentuk buku, kaset, situs internet dan yang lainnya.

Ingatlah bahwa jihad dalam rangka tegaknya daulah islamiyah tidak akan menyia-nyiakan ruh, umur dan dana para ihwah untuk sebuah aksi serampangan tanpa kajian. Selanjutnya harus dibangun kepekaan dan kematangan untuk tidak memisahkan dakwah dan jihad. Karena jihad yang bersih dan lurus tidak akan lahir kecuali dari dakwah tauhid yang lurus pula. [ Amru ].

Filed under: analisa, News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: