At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

KITA MEMBUTUHKAN SEORANG RIJAAL

Allahamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita seorang mukmin yang senantiasa berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan Ia lah yang telah memberikan pada kita nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga kita ditaqdirkan dapat melaksanakan shalat jum’ah di masjid ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi junjungan, nabi besar Muhammad sallahu alaihi wasallam yang telah membawa ummat ini dari jaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang dengan cahaya Islam.

Suatu ketika Umar ibnul khattab radhiyallahu ‘anhu duduk duduk bersama para sahabat radhiyallahu ‘abhum dan berkata :
تَمَنَّوْا “، فَقَالَ رَجُلٌ: أَتَمَنَّى لَوْ أَنَّ لِي هَذِهِ الدَّارَ مَمْلُوءَةٌ ذَهَبًا أُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: ” تَمَنَّوْا “، فَقَالَ رَجُلٌ: أَتَمَنَّى لَوْ أَنَّهَا مَمْلُوءَةٌ لُؤْلُؤًا وَزَبَرْجَدًا وَجَوْهَرًا، أُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَتَصَدَّقُ، ثُمَّ قَالَ: ” تَمَنَّوْا “، فَقَالُوا: مَا نَدْرِي يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، فَقَالَ عُمَرُ: ” أَتَمَنَّى لَوْ أَنَّ هَذِهِ الدَّارَ مَمْلُوءَةٌ رِجَالا مِثْلَ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ
Berobsesilah kalian !. kemudian salah seorang berkata : Aku berangan-angan seandainya Saya ingin rumah ini penuh dengan emas, sehingga saya bisa berinfaq di jalan Allah. Seseorang lainnya berkata: Saya ingin rumah ini penuh dengan mutiara dan permata sehingga saya dapat berinfaq dan bersedekah di jalan Allah Ta’ala. Umar berkata: Tapi saya berkeinginan rumah ini penuh dengan sosok seperti Ubaidah bin Jarrah. [ Fadhoilus shahabah 2/740, Mustadrak ‘ala shahihaini : 3/252 ].

Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau Umar Ibnu Al Khattab yang tahu betul akan pentingnya seorang kader militan untuk kemajuan islam yang akan datang. Dunia dakwah kita tengah memasuki era yang sangat kompetitif, era yang akan menentukan kita bertahan, maju atau terkikis zaman. Pada situasi seperti ini dakwah membutuhkan mereka yang berdaya guna, yang senantiasa siap memikul dakwah. Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana tabiat dakwah itu. Junud ad-dakwah yang cerdas, qowi almatin dan bertanggungjawablah yang siap berada di medan dakwah ini. Kehadiran kader seperti inilah yang menjadi obsesi Khalifah Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu.

Memang dalam dakwah dan perjuangan membutuhkan harta yang banyak. Tetapi apalah artinya perbendaharaan yang ada ketika para pengusung dakwah ini tidak memiliki pejuang dan penerus yang akan melanjutkan dakwah ini. Maka munculnya para pemuda yang seperti ini amat dibutuhkan di dunia dakwah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

إِنَّمَا النَّاسُ كَإِبِلٍ مِائَةٍ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةً

“Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi.” (HR. Al-Bukhari no. 6498 dan Muslim no. 2547)

Maksud hadits di atas, kata Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah, “Mayoritas manusia itu memiliki kekurangan. Adapun orang yang punya keutamaan dan kelebihan jumlahnya sedikit sekali. Maka mereka yang sedikit itu seperti keberadaan unta yang bagus untuk ditunggangi dari sekian unta pengangkut beban.” (Fathul Bari, 11/343)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan, “Orang yang diridhai keadaannya dari kalangan manusia, yang sempurna sifat-sifatnya, indah dipandang mata, kuat menanggung beban (itu sedikit jumlahnya).” (Syarhu Shahih Muslim, 16/101)

Seorang yang militan dan kader yang baik sebanding dengan seratus orang. Bahkan satu orang sebanding dengan seribu orang atau bahkan sebanding dengan bangsanya. Yaitu jika pemuda tersebut mempunyai semangat tinggi sehingga dapat menghidupkan ummat secara keseluruhan.

Suatu ketika Kholid Ibnul Walid radiyallahu ‘anhu mengepung suatu kota. Kemudian beliau meminta kepada Abu Bakar As Shiddiq radiyallahu ‘anhu tambahan pasukan. Dan tidaklah dikirim kepasa Kholid radiyallahu ‘anhu kecuali seorang saja, yaitu Al Qo’qo’ bin Amru At tamimi. Abu Bakar berkata : Tidaklah kalah suatu pasukan yang ada di dalamnya orang semisalnya. Beliau juga berkata : Sungguh suaranya Qo’qo’ dalam pasukan lebih baik dibandingkan seribu tentara.

Demikian juga saat Amru Ibnu al ‘Ash meminta tambahan pasukan dari amirul mukminin Umar Ibul Khattab saat membuka kota Mesir, maka beliau menuliskan surat : Amma ba’du. Maka aku tambahkan kepadamu empat ribu pasukan yang terwakili seribunya pada satu orang. Yaitu Zubair bin ‘Awwam, dan Miqdad bin Amru, dan Ubadah bin Shamit, serta Maslamah bin Mukhlid.

Akan tetapi manakah para pemuda tersebut pada hari ini ?. Apakah mereka yang sudah tumbuh jenggotnya saja karena sudah tua ?. Tidak. Jika demikian maka sangatlah banyak mereka-mereka itu pada hari ini.

Ketahuilah bahwa tumbuhnya seorang menjadi seorang muslim yang berkwalitas tidak dilihat dari umur. Berapa banyak orang yang umurnya sudah dewasa tetapi pemikirannya seperti anak-anak !. Mereka senang dengan dunia dan memiliki cita-cita rendah sedangkan kehidupan ia jalani tanpa visi. Ia habiskan waktu dan hartanya untuk bersenang-senang di dunia. Merasa bangga dengan keberhasilan dunianya sementara ia lalai dengan kehidupan akhiratnya. Inilah sebenarnya anak-anak yang telah memiliki kumis dan jenggot lebat.

Dan berapa banyak anak-anak dari segi umur tetapi menjadi orang besar dengan jiwa dan semangatnya ?. Kalian akan melihat mereka seperti orang dewasa dalam perkataan, perbuatan dan akhlaqnya. Adalah seorang anak dari bangsa arab masuk menghadap pada keholifahan umawiy yang akan berbicara mewakili kaumnya. Kemudian berkata kholifah : Hendaklah maju orang yang lebih tua darimu. Kemudian anak tersebut menjawab : Wahai amirul mukminin, kalau seandainya kemuliaan itu diukur dengan umur, maka ada yang lebih berhak untuk menjadi khalifah dibandingkan engkau.

Sesungguhnya baiknya masyarakat serta lingkungan, baiknya sekolah dengan kurikulum yang baik pula, serta jauhnya media elektronik serta cetak dari berbagai muatan-muatan yang merusak generasi, semua itu akan menjadikan generasi ini menjadi orang-orang besar dikemudian hari. Dan tidaklah lahir generasi yang kuat dan cerdas kecuali lahir dari pendidikan aqidah yang lurus serta qudwah yang shalihah. Sedangkan aqidah yang rusak, para pendidik yang jelek akhlaqnya tidak akan melahirkan generasi yang tangguh dikemudian hari. Sebagaimana tanah yang subur, air yang mencukupi serta cuaca yang baik akan melahirkar tanaman yang baik pula.

Sekarang marilah kita perhatikan para pemuda hari ini. Banyak diantara mereka yang tenggelam dalam kubang kemaksiatan dan perbuatan dosa. Mereka tidak paham akan tujuan hidup. Juga tidak paham apa itu islam, apa itu tauhid yang lurus. Serta tidak paham idola yang paling baik yaitu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Maka bermilyar-milyarnya orang-orang seperti itu tidak sebanding dengan satu orang yang paham sebuah visi dan perjuangan ini.

Kita berusaha untuk membentuk para rijal yang siap mengusung perjuangan ini dengan tarbiyah aqidah yang kuat. Tak lupa kita juga berdo’a agar diberikan generasi tangguh yang akan menguatkan din ini dan menjadikannya menang diantara din yang lain.

Bagaimana melahirkan rijal

Sesuatu yang paling penting dalam membentuk para perwira adalah dari keluarga kita. Anak-anak kita harus kita cetak terlebih dahulu sebelum orang lain. Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya untuk menjadikan ia seorang perwira dimasa yang akan datang ?. ada beberapa tips diantaranya ;

Pertama : Ajaklah mereka untuk berkumpul pada majlis orang-orang dewasa serta kajian-kajian keislaman. Ajari mereka tentang adab dan sopan santun terhadap orang tua. Sebagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum terbiasa membawa anak-anak mereka bermajlis dengan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam .

Kedua : Ceritakan pada anak-anak kita tentang kisah-kisah para pahlawan islam, kemenangan-kemenangan yang diraih oleh umat islam agar tumbuh dalam jiwa mereka keberanian. Karena setiap anak pasti mengidolakan seorang pahlawan. Sangat tepat jika anak menjadikan para pejuang-pejuang islam sebagi idolanya, dan sangat jelek jika anak-anak kita mengidolakan para tokoh dan bintang dalam perfilman menjadi idola mereka.

Ketiga ; jauhkan anak-anak kita dari nyanyian-nyanyian cengeng dan tidak mendidik. Ajari mereka untuk akrab dengan al qur’an dan hadist Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Perdengarkan mereka pada waktu-waktu luang mereka. Jangan beri ruang sedikitpun untuk masuknya setan dengan memperdengarkan mereka nyanyian-nyanyian jahiliyah.

Semoga dengan beberapa metode tersebut kita dimampukan Allah Ta’ala melahirkan generasi yang siap mengusung perjuangan dan menjadi rijal dikemudian hari. [ Amru ]

Filed under: makalah, Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: