At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

HIKMAH SEBUAH KEKALAHAN

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan agar Allah memisahkan kaum mukminin (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan agar Allah membersihkan kaum mukminin (dari dosa mereka) serta membinasakan orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imran: 140-141)

Allah telah menetapkan di dunia ini ada sebuah kemenangan dan kekalahan. Demikian pula dalam jihad jama’ah-jama’ah Islam melawan para wali syetan, ada sebuah kekalahan dan kemenangan. Kemenangan karena pertolongan Allah dengan beberapa sebab yang telah dijalaninya. Atau juga kekalahan karena kemaksiatan yang terjadi pada barisan ummat Islam. Semua itu menjadi sunnatullah yang mesti dijalani.
فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

“Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat perubahan bagi sunnah (ketentuan) Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.“ (Qs. Fathir : 43)
Jika gerakan-gerakan Islam hari ini sedang kalah dalam konfrontasi dengan para wali syetan, di sana ada sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sebuah jama’ah dan juga bagi para anggotanya. Kesalahan apakah yang telah dilakukan oleh anggotanya sehingga Allah SWT menimpakan kekalahan ?. Semuanya harus dievaluasi sehingga jama’ah tersebut dikemudian hari kuat dan siap menghadapi konspirasi musuh-musuhnya.

Tafsir Ayat
Pada ayat di atas Allah SWT menghibur kaum mukminin yang sedang mengalami kekalahan pada Perang Uhud. Yaitu ketika pasukan pemanah melanggar perintah Nabi SAW pada peperangan Uhud dengan meninggalkan posnya di atas gunung, lalu turut berebut rampasan. Pasukan kaum muslimin akhirnya terpukul mundur, dikucar-kacirkan oleh musuh sampai kalah.

Peristiwa ini menjadi satu pelajaran bagi kaum muslimin untuk menyadarkan mereka bahwa orang-orang Islam itu diciptakan bukanlah untuk bermain-main, berfoya-foya, bermalas-malas, menimbun kekayaan, tetapi mereka harus sungguh-sungguh beramal, menaati perintah Nabi SAW dan tidak melanggarnya, apapun resikonya.

Hikmah kekalahan yang dijelaskan dalam ayat di atas banyak sekali, diantaranya;

Pertama: Luka yang diderita oleh kaum muslimin saat kalah, sama dengan lukanya orang kafir saat mereka kalah.

Semua ini sebagai bentuk penyemangat umat Islam, yaitu dengan menyebutkan suatu fakta. Faktanya adalah jika mereka telah mengalami kerugian tertentu dan juga kerusakan demi memperjuangkan kebenaran, serta masa depan yang lebih cemerlang, maka musuh-musuh mereka juga akan mendapati kematian dan luka-luka. Jika mereka tidak memenangkan Pertempuran Uhud pada hari itu, musuh mereka juga telah dikalahkan pada Perang Badar sebelum hari itu. Oleh karenanya, adalah wajib bagi mereka untuk bersabar menghadapi cobaan dari Allah SWT berupa kekalahan.

Imam Abdurrahman As-Sa’di rhm berkata, “Dan diantara hikmah pada ayat ini bahwasanya dunia ini Allah peruntukkan bagi orang-orang mukmin dan kafir, orang yang baik dan orang yang fajir, kemudian Allah pergilirkan hari-hari diantara manusia. Suatu hari diberikan pada satu kelompok, dan hari lain diberikan pada kelompok lain karena memang dunia ini adalah fana. Berbeda dengan akhirat, maka sesungguhnya akhirat hanya diperuntukkan untuk kaum mukminin. [Tafsir taisiri karimir rahman pada ayat tersebut ]
Hikmah kedua adalah:Untuk menyaring shof pasukan Islam.

Peristiwa kekalahan kaum muslimin di peperangan Uhud sesudah mereka menang di dalam Perang Badar sebelumnya, adalah juga dimaksudkan untuk membedakan orang-orang yang benar-benar beriman dari kaum munafik dan untuk membersihkan hati orang-orang mukmin yang masih lemah. Sehingga benar-benar menjadi orang yang ikhlas, bersih dari cacat dosa.

Perbuatan seseorang samar-samar, dan tidak jelas hakikatnya kecuali dengan melalui ujian berat. Kalau lulus ujian itu, jelaslah bahwa dia adalah orang yang bersih dan suci, sebagaimana halnya emas, baru dapat diketahui keasliannya sesudah diasah, dibakar dan diuji dengan air keras.
Ibnu Katsir rhm berkata ketika menafsirkan ayat, “Supaya Allah membedakan kaum mukminin”. Hal ini juga termasuk diantara hikmah, yaitu menguji hamba-hamba-Nya dengan kekalahan dan bencana-bencana agar jelas antara orang mukmin dan munafik. Karena jika kemenangan terus ditangan kaum mukminin, maka akan banyak orang munafik pada barisan ummat islam. Dan jika ujian itu muncul, jelaslah orang-orang yang benar-benar cinta terhadap Islam. Mereka tetap komit pada kondisi longgar dan sempit, mudah dan sulit sangat berbeda dengan orang munafiq. [Tafsir al Qur’ani ‘Adhim : I/149].

Hikmah ketiga: Allah SWT hendak mengambil orang-orang pilihan dari para syuhada’.
Para syuhada’ adalah orang-orang pilihan dari para mujahidin. Kematian mereka di medan tempur bukan berarti mereka kalah, tetapi mereka adalah orang yang menang dengan kehidupan yang abadi di akhirat. Sampai-sampai Rasulullah SAW berkenginan menjadi seorang yang syahid sebagaimana dalam hadist ;

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى أُقْتَلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيَى
“Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya, sungguh aku senang jika aku terbunuh dijalan Allah kemudian dihidupkan lagi.” [ HR. Muslim ]

Abdurrahman As-Sa’di rhm menjelaskan dalam tafsirnya ketika menafsirkan “ dan mengambil dari kalian para syuhada’” ini juga mengandung ragam hikmah. Karena syahid di sisi Allah SWT adalah kedudukan yang paling tinggi. Dan tidak ada jalan untuk mendapatkannya kecuali dengan sebab-sebabnya. Ini adalah bagian dari rahmat Allah bagi hambaNya yang mukmin. Bahwa syahadah itu diikat oleh hal-hal yang tidak disenangi jiwa. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan apa yang mereka cintai dari kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi yaitu jannah. [ Tafsir as Sa’di pada ayat tersebut ].

Demikianlah kesimpulan pada surat Ali Imran ayat 40, yaitu, jika kaum muslimin menderita luka atau menemui ajalnya pada Perang Uhud, maka orang-orang kafir juga mengalami yang demikian itu pada Perang Badar.

Jadi, menang dan kalah dalam peperangan adalah ketentuan yang dipergilirkan oleh Allah diantara manusia, agar mereka mendapat pelajaran, dan supaya Allah membedakan antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir, dan juga memberikan kepada kaum muslimin kebahagiaan mati syahid yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah, karena mereka mengorbankan jiwa raganya untuk membela kebenaran, dan Allah tidak menyukai orang-orang berbuat zalim.

Hikmah keempat: Untuk membersihkan jiwa kaum mukminin dan membinasakan orang-orang kafir.
Kata tamhîsh dalam bahasa Arab berarti ‘menyucikan dari segala kekurangan dan kerusakan’, sedangkan kata mahq dalam bahasa Arab berarti ‘mengurangi secara bertahap’. Mungkin, dalam kekalahan Perang Uhud, Allah SWT berkehendak untuk menunjukkan titik lemah umat Islam sehingga mereka akan berpikir untuk meningkatkan diri dan memutuskan untuk memperbaiki kesalahan mereka, agar benar-benar siap untuk melaksanakan tindakan-tindakan berikutnya. Terkadang kekalahan lebih bisa untuk dijadikan pelajaran dari pada kemenangan yang terkadang menyebabkan kecerobohan.

Syaikh Abdurrahman as Sa’di menjelaskan ayat “Dan agar Allah membersihkan kaum mukminin (dari dosa mereka)” dan ini pula termasuk hikmah bahwa dengan kekalahan tersebut, Allah SWT hendak membersihkan dosa serta aib kaum mukminin. Hal ini menunjukan bahwa syahadah dan berperang di jalan Allah akan membersihkan dosa serta menghilangkan aib-aib. Dan juga Allah berkehendak membersihkan kaum mukminin dari kaum munafik, sehingga benar-benar bersih dari mereka. Antara mukmin dan munafik benar-benar terpisah. Diantara hikmah kekalahan juga untuk mimbinasakan orang-orang kafir, maksudnya : agar kekalahan di pihak umat Islam itu menjadi sebab untuk menghapus dan membinasakan orang-orang kafir sebagai hukuman. Karena mereka itu jika menang akan melampui batas dan bertambah perbuatan mereka itu sehingga Allah akan menyegerakan hukumannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin.

Demikianlah hikmah kekalahan di Perang Uhud untuk dijadikan pelajaran bagi para Jama’ah-Jama’ah Islam dan anggotanya yang hari ini sedang mengalami kekalahan. Ayat ini menegaskan; kemaksitan menghalangi kemenangan, dan pada kekalahan ada hikmah. Kita harus yakin bahwa kemenangan akan segera datang. Karena fajar akan segera menyingsing setelah gelapnya malam. Karena memang kegelapan akan sirna dengan datangnya cahaya. [Amru].

Filed under: Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: