At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

RAMBU-RAMBU BAGI MEREKA YANG MEMILIH JALAN JIHAD

Ada orang yang beranggapan bahwa penegakan syari’at itu cukup dicapai hanya dengan mengandalkan kekuatan fisik belaka. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa berbagai kemaksiatan dan seluruh permasalahan selesai dengan senjata. Bahkan usaha untuk membina ummat dan mentarbiyah mereka dianggap sebagi amalan yang akan melalaikan pada jihad.

Sisi yang lain ada orang yang beranggapan bahwa islam ini bisa tegak hanya dengan mengkajinya di majlis-majlis taklim saja. Mereka menolak adanya usaha penegakan syari’at dengan I’idad dan jihad fi sabilillah. Mereka anggap jalan ini adalah jalan brutal yang tidak ditempuh salafuna as shalih.

Tidakkah mereka tahu bahwa Islam ini hanya akan tegak dengan ilmu dan jihad ?. Dan bahkan at taifah al manshurah [ kelompok yang Allah tolong untuk menegakkan din-Nya ] memiliki ciri khususu yaitu ilmu dan amal ?.

At Toifah almanshurah adalah sebuah kelompok yang memiliki dua sisi sangat penting, ilmu dan amal. Sisi ilmu ini diwakili oleh para ulama yang mereka mendakwahkan tauhid dan jihad serta tidak takut celaan dan ancaman dari musuh-musuh islam. Sedangkan amal ini terwakili oleh para mujahidin yang senantiasa memperjuangkan din islam ini dengan darah, waktu dan umur mereka. Kedua sisi ini tidak dapat dipisah-pisahkan.

Hal ini dipaparkan oleh Allah ta’ala dalam al qur’an :
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [ QS. Al Hadid : 25 ].

Para ulama ketika mentafsirkan al kitab pada ayat tersebut adalah seluruh kitab yang diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi hamba-Nya agar meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan besi yang dimaksud adalah senjata peperangan sebagai alat untuk menundukkan orang-orang yang melawan islam setelah datang penjelasan baginya. [ lihat tafsir ibnu katsir dan as sa’di ].

Bahkan Imam Ibnu Taimiyah berkata :
فَالدِّيْنُ الْحَقِّ لاَ بُدَّ فِيْهِ مِنَ الْكِتَابِ الْهَادِي وَالسَّيْف النَّاصِرِ .. فَالْكِتَابُ يُبَيِّنُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَمَا نَهَى عَنْهُ ، وَالسَّيْفُ يَنْصُرُ ذَلِكَ وَيُؤَيِّدُهُ ) أ . هـ .
Maka din yang ini harus ada kitab yang menunjukkan [ pada jalan yang lurus ] dan juga pedang yang menolong. Kitab tersebut yang akan menjelaskan apa yang Allah telah perintahkan dan larang, sedangkan pedang yang akan mengawal kebenaran tersebut. [ Minhajus sunnah : 1/142 ].

Hikmah dari kitab dan besi
Dari pemaparan di atas, kita bisa ambil beberapa pelajaran dan hikmah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : islam memberikan dua jalan untuk berinteraksi dengan masarakat. Yaitu dengan kitab atau ilmu yang disampaikan kepada ummat melalui lesan para ulama’. Dan juga pedang yang terwakili oleh para mujahid untuk melindungi dakwah tersebut.

Bagi mereka yang dapat menerima islam dengan lemah lembut, nasehat yang baik, maka cukuplah dengan dakwah dan ilmu. Tetapi bagi mereka yang menentang islam, cara dakwah kepada mereka adalah dengan tusukan tombak dan mata pedang. Inilah metode islam yang mulia, yaitu mensikapi realitas manusia seacara berbeda karena sikap mereka terhadap islam yang berbeda-beda pula.

Dakwah adalah metode yang digunakan untuk menuntun manusia pada jalan kebenaran. Mengajak dialog hati dengan dengan argumentasi dan nasehat. Sebagaimana Rasulullah salallahu alaihi wasallam mengajak para sahabat disaat mereka begelimang maksiat di awal-awal islam.

Tetapi bagi mereka yang menolak islam dan menjadikannya sebagai musuh mereka. Bahkan mendeklarasikan bahwa ialah satu-satunya penguasa di bumi dengan undang-undang yang ia buat, maka bahasa yang tepat adalah bahasa pedang. Bahasa dakwah dengan hikmah tidak lagi berguna pada mereka. Disini jihad menjadi alat pengubah diasaat dakwah sudah tidak mampu untuk merasuk pada jiwa-jiwa mereka. Para mujahid harus merapikan barisan dan menyandang pedang untuk menghadapi mereka.

Dakwah dan jihad harus ditempatkan pada tempatnya. Akan terjadi kerusakan jika pedang diarahkan kepada orang-orang yang seharusnya cukup dengan dakwah. Sebaliknya, dakwah ini akan binasa jika kekerasan dan kebengisan musuh islam dihadapi hanya dengan dakwah saja. Semua ini akan menjadi malapetaka dan kehancuran jika salah dalam menenmpatkannya.

Kedua : Membekali dengan bekal jurudakwah dan bekal seorang mujahid. Ummat ini harus mempersiapkan para juru dakwah untuk menjadi seorang da’i yang handal berupa ilmu din islam, kekuatan alasan dan argumentasi, metode yang baik serta bekal lainnya. Sisi yang lain ummat juga harus mempersiapkan diri menjadi seorang mujahid. Dimulai dari sikap pantang mundur, keberanian, kecakapan, fisik yang baik, pengetahun yang mumpuni dan lainnya.

Gerakan islam akan gagal jika kurang perhatian untuk mendidik putra-putra islam pada dua hal di atas. Atau juga lebih perhatian pada satu sisi serta melalaikan sisi yang lain. Karena seseorang yang paham akan jalan yang harus ditempuh, sementara tidak mempersiapkan para perambah yang layak untuk melewati jalan tersebut, pasti akan gagal mencapai tujuannya.

Ketahuilah bahwa din islam ini tidak bisa tegak hanya dengan perkumpulan para da’I dan juru nasehat. Yang mereka itu tidak dapat bekerja baik kecuali di biadang dakwah dan pemberi nasehat. Padahal ada orang-orang yang tidak bisa diarahkan kecuali dengan pedang dan tombak.

Demikian pula tidak cukup jika kita semua menjadi batolyon tempur yang menghunus pedang disetiap tempat dan keadaaan. Mereka tidak mengerti bagaimana berdakwah dan membina manusia untuk menjadi penerus-penur mereka dikemudian hari. Mereka juga tidak paham kepada siapa padang yang mereka hunus diarahkan.. … Maka sebuah selahan fatal jika pada saat berkecimpung di medan dakwah tidak memiliki perangkat-perangkat dakwah kecuali pedang, atau juga sebuah kesalahan jika pada saat berada di medan peperangan tidak mereka miliki kecuali para juru dakwah.

Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.[ Al Ahzab 45 – 46 ].

Ketiga : menolak metode lain selain dakwah dan jihad dalam menegakkan kembali syari’at islam sebagai sebuah institusi. Nabi kita sallallahu alaihi wasallam telah mengajari kita dalam menegakkan diin ini. Beliau dan para sahabat telah mencontohkan pada kita metode dakwah dan jihad saat menegakkan negeri Madinah saat itu. Maka kita harus mencontoh beliau dan para sahabat dan harus menolak seluruh metode-metode jahiliyah dengan seluruh lembaga dan organisasinya. Kita harus menjauhi jalan-jalan penuh lumpur seperti demokrasi dan lainnya yang akan menenggelamkan para pengusung islam ini. Karena seluruh perbuatan jahiliyah adalah hina Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam sebuah hadist ;

أَلاَ إِنَّ كُلَّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ

Ketahuilah bahwa segala sesuatu dari urusan jahiliyah terletak di bawah kedua kakiku !. [ HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah ].

Maka tidak pantas kita mengambil metode jahiliyah. Padahal Rasulullah menginjaknya dibawah kaki beliau. Memang setan dari bentuk jin dan manusia senantiasa menghiasi kebatilan dan kejahiliyahan dengan hal-hal yang indah. Menanamkan angan-angan bahwa dengan metode demokrasi pasti akan tegak islam. Hingga sebagian para pejuang tergiur untuk mencoba, siapa tahu jalan tersebut berhasil. Tetapi sekali saja dia berpaling dari jalan yang lurus ini, pasti ia akan menyimpang secara sempurna pada akhirnya. Sebagaimana perkataan Sayyid qutub rahimahullah ;

الاِنْحِرَافُ اَلطَّفِيْفُ فِي أَوَّلِ الطَّرِيْقِ يَنْتَهِي إِلَى الْاِنْحِرَافِ اَلْكَامِل فِي نِهَايَةِ الطَّرِيْقِ
Penyimpangan yang sedikit pada awal dakwah akan berakhir dengan penyimpangan yang sempurna diakhirnya. [ diambil dari buku al qobidhul jamar syaikh Abu Mus’ab az zarqowi ].

Demikianlah beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari pentingnya kitab dan pedang dalam menegakkan islam ini. Kita senantiasa berdo’a agar diistiqamahkan pada jalan ini dan diwafatkan dalam keadaan melazimi jalan ini. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya milik Allah Ta’ala. [ Amru ].

Filed under: makalah

One Response

  1. ifah mengatakan:

    islam hanya tegak dgn i’dad wal jihad.knp smpai rosullah brdarah?tanggal giginya?trluka?krn mngakan islam.syareat2 Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: