At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

MEMBUDAYAKAN SIKAP TABAYYUAN

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahun sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian kerjakan. (QS al-Hujurat [49]: 6).

Hari ini, kita hidup di zaman lubernya informasi. Telivisi dengan berbagai stasiunnya menayangkan berita. Koran harian dan juga majalah bertebaran disekitar kita dengan harga sangat murah. Sementara internet telah menjadi hal yang mudah di akses untuk mendapatkan berita terupdate. Semua ini mempermudah seseorang untuk mendapatkan berita dengan cepat dan biaya yang murah.

Dibalik itu semua, kita banyak yang tidak selektif dalam menerima berita. Apa yang kita lihat, kita dengar dan kita baca diyakini sebuah fakta kebenaran tanpa mau untuk mengcroscek di lapangan. Atau juga tidak mau mencari pemberitaan yang ditampilkan media-media islam. Akhirnya terjadilah kesan-kesan negative terhadap islam dan perjuangan menegakkan kalimat Allah. Bahkan perpecahan diantara tokoh-tokoh dan gerakan-gerakan islampun terjadi dikarenakan mempercayai berbagai pemberitaan dari media-media fasik hari ini.

Kita harus tahu bahwa media apapun pasti memiliki sebuah visi misi. Jika media itu adalah medianya orang-orang fasik dan juga orang-orang kafir, maka jelas visinya yaitu menguatkan kefasikan dan kekafiran mereka. Maka, menumbuhkan sikap tabayyun mutlak dilakukan. Tujuannya adalah, agar kita terselamatkannya dari sikap ceroboh dalam mengambil keputusan yang akan mendatangkan penyesalan dikemudian hari.

Sebab turunnya ayat
Surat at-Hujurat ini diturunkan setelah Fathu Makkah. Sejak saat itu suku-suku yang ada di Jazirah Arab berbondong-bondong masuk Islam. Termasuk di dalamnya adalah Suku al-Musthaliq, yang di pimpin oleh al-Haris bin Dlirar. Meskipun masuknya Islam al-Harits diawali dengan sebuah peperangan, toh keislaman al-Harits ini tidak diragukan. Apalagi putrinya yang bernama al-Juwairiyah dinikahi oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Diriwayatkan dalam hadits riwayat Ahmad, disebutkan suatu hari Al-Harits, yang masih kafir, menghadap kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dalam pertemuan itu, beliau mengajak Al-Harits masuk Islam. Al-Harits menyambut dengan baik tawaran Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan berikrar masuk Islam.

Syahadatnya tidak tanggung. Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengajaknya untuk mengeluarkan zakat, ia pun menyanggupi tanpa banyak kata. Al-Harits bahkan berkata kepada Rasulullah, sepulangnya dari pertemuan itu, dia akan mengajak kaumnya untuk masuk Islam dan mengumpulkan zakat di antara mereka. Bila sudah tiba waktunya, Al-Harits meminta Rasulullah untuk mengirimkan utusan untuk mengambil zakat yang sudah ia kumpulkan.

Namun, saat Al-Harits kembali ke kaumnya dan berhasil menjalankan janjinya, hingga waktu yang telah ditentukan ternyata tak seorang pun utusan datang mengambil zakat. Al-Harits khawatir Rasulullah marah. Maka disusulnya beliau bersama kaumnya untuk mengetahui keadaan sebenarnya.

Adapun Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sebenarnya sudah mengutus seseorang. Namanya Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat. Tapi di tengah perjalanan, Al-Walid yang ternyata berhati fasik, berubah kehendak. Dia balik pulang ke tempat Rasulullah dan mengatakan laporan palsu. Al-Walid mengatakan bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat yang ia telah kumpulkan, bahkan ditambah-tambahkan dengan keterangan Al-Harits ingin membunuhnya.

Kemudian Rasul mengirimkan utusan berikutnya ke Al-Harits dan bertemu dengan utusan di perjalanan dan bertanya, “Kepada siapa kalian diutus?”
Utusan itu menjawab, “Kami diutus kepadamu.”

Dia bertanya, “Mengapa?”
Mereka menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah mengutus Al-Walid bin Uqbah. Dia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan engkau bermaksud membunuhnya.”
Al Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku.”
Sesampai mereka di hadapan Rasulullah, maka Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menahan zakat serta hendak membunuh utusanku?”

Ia menjawab, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya. Aku tidak berbuat yang demikian.”
Maka turunlah ayat ke-6 dari surat Al-Hujurat, di mana Allah mengingatkan Nabi tentang apa yang seharusnya beliau lakukan, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Tafsir dari ayat

Ayat ini ditujukankan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman agar mereka berhati-hati ketika ada orang fasik membawa berita kepadanya; agar mereka memeriksanya dan tidak menelannya mentah-mentah (Yâ ayyuhâ al-ladzîna âmanû in jâ’akum fâsiqun binaba’in fatabayyanû). Dalam konteks ayat ini, Allah menggunakan jumlah syarthiyyah (kalimat bersyarat), in jâ’akum (jika [orang fasik] membawa kepadamu), dengan fâ’il (subyek) yang berbentuk sifat, fâsiqun (orang fasik). Berdasarkan konteks tersebut, dapat diambil mafhûm mukhâlafah (konotasi terbalik) sehingga para ulama membolehkan diambilnya hadis ahâd yang disampaikan oleh orang yang adil dan tidak fasik. [Al-Qurthûbi, al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân, Dâr , juz XVI, hlm. 312 ].

Fâsiq (fasik) sendiri mempunyai konotasi al-khurûj min at-thâ‘ah (keluar dari ketaatan). Menurut as-Syawkâni, ada yang menyatakan, bahwa fasik dalam konteks ayat ini adalah dusta atau bohong.[ As-Syawkâni, Fath al-Qadîr, Dâr al-Fikr, Beirut, juz V, hlm. 60]. Sementara itu, menurut istilah para ahli fikih, fasik adalah orang yang melakukan dosa besar dengan sengaja atau terus-menerus melakukan dosa kecil. [Rawwâs Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Dâr an-Nafâis, Beirut, cet. I, 1996, hlm. 307 dan 315 ].

Penggunaan kata naba’ (berita) dalam ayat ini mempunyai konotasi, bahwa berita tersebut adalah berita penting, bukan sekadar berita. Menurut ar-Râghib al-Ashfahâni, berita pada dasarnya tidak disebut naba’ sampai mempunyai faedah besar, yang bisa menghasilkan keyakinan atau ghalabah azh-zhann (dugaan kuat). [ As-Shâbûni, Shafwat at-Tafâsîr, Dâr as-Shâbûni, Kairo, cet. IX, juz III, hlm. 231 ].

Di sisi lain, kata naba’ tersebut merupakan bentuk nakirah (umum), yang berarti meliputi semua jenis dan bentuk berita; baik ekonomi, politik, pemerintahan, sosial, pendidikan dan sebagainya. Karena itu, dapat disimpulkan, jika ada orang fasik membawa berita penting, apapun jenis dan bentuknya, yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan, maka berita tersebut harus diperiksa. Sedangkan kata tabayyanû, berarti at-ta‘arruf wa tafahhush (mengindentifikasi dan memeriksa) atau mencermati sesuatu yang terjadi dan berita yang disampaikan. [ fathul qodir Asy-Syawkâni, hlm. 60 ].

An tushîbû qawman bi jahâlatin (supaya kalian tidak menjatuhkan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahuan). Bi jahâlatin (dalam kondisi kalian tidak mengetahui) adalah keterangan hâl (keadaan yang menjelaskan perbuatan subyek). Menurut as-Shâbûni, konteks bi jahâlatin tersebut sama artinya dengan wa antum jâhilun (sementara kalian tidak mengetahui); [ Fathul qodir, Asy-Shâbûni, hlm. 233 ]. sebuah keterangan yang menjelaskan keadaan subyek ketika membuat keputusan atau kesimpulan. Keadaan ini umumnya terjadi karena informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan atau kesimpulan tersebut tidak dicek terlebih dulu.

Fatushbihû ‘alâ mâ fa‘altum nâdimîn (sehingga kalian menyesali apa yang telah kalian lakukan). Penyesalan tersebut terjadi tentu karena keputusan yang dijatuhkan sebelumnya ternyata salah, tidak akurat, dan merugikan orang lain.

Budayakan meng-croscek berita
Dalam soal mentabayyun atau croscek berita, ada teladan yang indah dari ahli hadis. Mereka telah mentradisikan tabayyun ini di dalam meriwayatkan hadis. Mereka menolak setiap hadis yang berasal dari pribadi yang tidak dikenal identitasnya (majhul hal), atau pribadi yang diragukan intgritasnya (dla’if). Sebaliknya, mereka mengharuskan penerimaan berita itu jika berasal dari seorang yang berkepribadian kuat (tsiqah). Untuk itulah kadang-kadang mereka harus melakukan perjalanan berhari-hari untuk mengecek apakah sebuah hadis yang diterimanya itu benar-benar berasal dari sumber yang valid atau tidak.
Tetapi sayang, tradisi ini kurang diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini. Pada umumnya orang begitu mudah percaya kepada berita di koran, majalah atau media massa. Mudah pula percaya kepada berita yang bersumber dari orang kafir, padahal kekufuran itu adalah puncak kefasikan. Sehingga dalam pandangan ahlul hadis, orang kafir sama sekali tidak bisa dipercaya periwayatannya.

Disisi yang lain bahwa media televise, Koran, radio dan yang lainnya, pada hari telah dikuasai oleh musuh-musuh islam. Maka tidak heran jika pemberitaan sudah tidak lagi seimabang dan cenderung menghakimi dan menyudutkan ummat islam.

Lihatlah ! saat media sudah menuduh seseorang atau kelompok sebagai teroris. Maka serta merta semua orang seperti koor mengikuti berita itu secara taken of granted. Akibat dari informasi tersebut, sebagian umat Islam menjadi terpojok dan terkucil serta terdhalimi. Sementara orang-orang kafir mendapatkan dukungan sehingga berada di atas angin. Dalam persoalan seperti ini seharusnya orang Islam berhati-hati. Jika tidak mengetahui informasi secara persis maka harus bersikap tawaqquf (diam) Jangan mudah memberikan respon, pendapat, analisa atau sikap terhadap orang lain jika informasi yang diperolehnya belum valid. Apalagi hanya ia dapatkan dari televise dan media kafir. Sebab jika tidak, ia akan terjerumus pada sikap mengikuti isyu, dan akhirnya menetapkan sebuah keputusan tanpa fakta.

Sudah saatnya kita membangun kesadaran ummat untuk memunculkan media-media islam yang memberitakan berbagai kejadian di dunia ini dengan benar. Bersamaan dengan itu kita juga harus berusaha menyadarkan ummat untuk tidak mempercayaai berita-berita yang muncul dari media-media sekuler dan kafir. Karena pasti dibalik pemberitaan tersebut terselubung misi mereka untuk melanggengkan kekufuran dan kefasikan. [ Amru ].

Filed under: syubhat, Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: