At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

BETAPA MULIANYA SHALAT TAHAJJUD

tahjudQiyamul lail adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita. Ia merupakan perdagangan bagi orang-orang yang beriman yang tidak akan merugi. Pada qiyamul lail seorang mukmin menyepi dengan Allah ta’ala di malam hari. Ia hadapkan wajahnya kepada pencipta alam semesta untuk diadukan seluruh persoalannya baik dunia dan akhirat.

Sungguh tidak pantas bagi kita untuk mengadukan berbagai permasalahan hidup pada manusia, sementara kita tidak pernah mengadukannya kepada Allah ta’ala. Kesempitan rizki kita, jodoh yang tak kunjung datang, momongan yang tak kunjung diberi, dan permasalahan-permasalahan lainnya. Padahal Allah ta’ala senang jika hambanya mengadukan seluruh permasalahan kepada-Nya. Ia pasti mengabulkan do’a seorang hamba, apa lagi dilakukan setelah tahajjud pada sepertiga malam akhir. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;

إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim no. 757)
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Uncategorized

KEPADA ANDA YANG BELUM BERANGKAT JIHAD

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنِي بُسْرُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنِيyatim زَيْدُ بْنُ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا

Telah bercerita kepada kami Abu Ma’mar telah bercerita kepada kami ‘Abdul Warits telah bercerita kepada kami Al Husain berkata telah bercerita kepadaku Yahya berkata telah bercerita kepadaku Abu Salamah berkata telah bercerita kapadaku Busr bin Sa’id berkata telah bercerita kapadaku Zaid bin Khalid radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang mempersiapkan (bekal) orang yang berperang di jalan Allah berarti dia telah berperang (mendapat pahala berperang). Dan barang siapa yang menjaga (menanggung urusan rumah) orang yang berperang di jalan Allah dengan baik berarti dia telah berperang”. (HR. Bukhori 2631, Muslim : 12/425 ).

Sejarah telah mencatat kemenangan dalam berbagai pertempuran yang dilakukan oleh kaum muslimin. Semua kemenangan tersebut didapatkan kerena kekompakan kaum muslimin dalam mengusung jihad fisabilillah. Tidak ada seorangpun yang tidak berperan dalam jihad fi sabilillah kecuali orang-orang munafik.
Gambaran ini dapat dilihat jelas disaat perang Tabuk. Kaum muslimin mendengar persiapan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Romawi dengan jumlah pasukan sekitar empat puluh ribu personil. Keadaan semakin kritis, karena suasana kemarau. Kaum muslimin tengah berada di tengah kesulitan dan kekurangan pangan.

Mendengar persiapan besar pasukan Romawi, kaum muslimin berlomba melakukan persiapan perang. Para tokoh sahabat memberi infaq fi sabilillah dalam suasana yang sangat mengagumkan. Utsman menyedekahkan dua ratus onta lengkap dengan pelana dan barang-barang yang diangkutnya. Kemudian ia menambahkan lagi sekitar seratus onta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya. Lalu ia datang lagi dengan membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Utsman terus bersedekah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus onta seratus kuda, dan uang dalam jumlah besar. Abdurrahman bin Auf membawa dua ratus uqiyah perak. Abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya. Umar datang menyerahkan setengah hartanya. Tidak kalah dengan para sahabat yang lainnya datang kepada Rassulullah sallallahu alaihi wasallam untuk membantu pembiayaan pasukan tersebut.
Demikian juga dengan sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu yang ditinggal mengurusi keluarga mereka. Beliau urus semua keluarga dengan baik, walau sebenarnya beliau juga berkeinginan berangkat berjihad. Demikianlah peran seluruh ummat islam dalam jihad fi sabilillah dengan tanpa meremeh bagian satu dengan bagian yang lainnya. Jika seluruh komponen ummat sadar dan beramal semaksimal mungkin entah menjadi mujahid atau mengurusi seluruh kebutuhan para mujahid, dengan izin Allah kemenangan akan datang.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Tafsir

JUJURKAH NIAT JIHAD KITA ?

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى وَاللَّفْظُ لِحَرْمَلَةَ قَالَ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا و قَالَ حَرْمَلَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو niat jihadشُرَيْحٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ فِي حَدِيثِهِ بِصِدْقٍ

Artinya :”Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir dan Harmalah bin Yahya dan ini adalah lafadz Harmalah, Abu At Thahir berkata; telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Harmalah mengatakan; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepadaku Abu Syuraikh bahwa Sahl bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif telah menceritakan kepadanya dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya sampai ke derajat para syuhada’ meski ia meninggal dunia di atas tempat tidur.” Dan dalam hadits yang diriwayatkan Abu At Thahir tidak menyebutkan, ‘Dengan sungguh-sungguh.’”(HR. Muslim 1909 ).

Banyak diantara kaum muslimin yang merindukan jihad fisabilillah. Mereka berkeinginan jika dirinya ikut dalam kafilah untuk membela din Allah Ta’ala. Saking semangatnya, banyak diantara mereka yang agak memaksakan diri untuk berjihad padahal belum siap secara ilmu, jasad dan juga sarpra. Apalagi menyiapkan ummat untuk menerima, mendukung dan bahkan siap bergabung dalam berjihad fi sabilillah.
Usaha yang serius dengan melakukan tahapan-tahapan jihad sehingga ia benar-baner matang jika sewaktu-waktu diseru untuk jihad fisabilillah adalah hal yang penting, dari pada memaksakan diri untuk terjun kemedan jihad dengan tanpa persiapan apapun. Pada posisi apapun kita hari ini, jika memang berusaha untuk memperjuangkan din Allah dengan niat yang jujur, Allah akan tulis amal kita sebagai amalnya para syuhada’. Karena memang jihad membutuh seluruh komponen ummat untuk mendukungnya.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 317,252 hits

Pengunjung

online