At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Hati-hatilah dari Pemikiran Murji’ah Gaya Baru

Telah muncul pada akhir masa sahabat orang yang menganggap bahwa iman yang dapat menyelamatkan pelakunya dari neraka adalah syahadat yang hanya diucapkan dengan lesan dan diikrarkan dalam hati. Walaupun ia belum pernah beramal shalih entah shalat, zakat, haji, berbakti pada orang tua, dan belum pernah melaksanakan berbagai perintah diin, dan ia mengira tidak membatalkan imannya dan tidak mengeluarkan dari millah islam.

Demikian pula jika ia berbuat kemungkaran dan melakukan seluruh dosa-dosa besar, bahkan sujud kepada selain Allah, berdo’a kepada selain-Nya, menghalalkan yang diharamkan Allah, menharamkan yang dihalalkan Allah, dan berhukum atas segala urusan dengan hukum selain islam, bahkan walaupun mencela Allah dan rasul-Nya serta diin. Mereka menganggap bahwa itu adalah amalan dhohir sedangkan hatinya masih beriman – menurut anggapan mereka – dan tidak mengeluarkan mereka dari keislaman.

Mereka mengira bahwa orang yang semasa hidupnya belum pernah sujud sama sekali, belum melakukan perintah Allah satupun, dan melakukan berbagai amalan-amalan kekafiran telah mendapat rahmat Allah di akhirat. Dan mereka mendapatkan syafa’at di akhirat. Mereka menganggap jika mendapat adzab di akhirat maka akan diringankan dengan syafa’at dan syahadat dia dengan lesan dan hatinya saat di dunia.
ketika muncul pemikiran yang berbahaya ini, tampillah para tabi’in dan ulama’ ahlussunnah menyeru untuk menjauhi pemikiran tersebut disetiap tempat. Mereka serukan ummat untuk menjauhi pemikiran yang hina dan telah merusak pondasi-pondasi islam ini. merekapun menamai fitnah ini dengan fitnah irja’.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq, makalah, Manhaj, Nasehat tuk penuntut ilmu

Download Audio: “Nasehat Salaf u/ Salafi – Ustadz Farid Okbah & Ustadz Ahmad Rofi’i”

Acara: Bedah Buku “Nasehat Salaf untuk Salafi”;

Tempat: Masjid Al-Azhar, Bekasi; Waktu: Kamis, 13 Mei 2010, Pukul 08.30 WIB sampai Dzhuhur.

Para Pembicara: (1) Pembicara Pertama: Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA, (2) Pembicara Kedua: Ust. Ahmad Rofi’i, Lc.

1. Pembukaan oleh Moderator: Ust. Ust. Dedy

Download File

2. Pembicara Pertama: Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA

Download File

3. Pembicara Kedua: Ust. Ahmad Rofi’i, Lc

Download File

Sumber: http://alislamu.com

Filed under: Audio ceramah, dirosatul firoq, Nasehat tuk penuntut ilmu

AL HAROKAH AL ISLAMIYAH

I. RUNTUHNYA KHILAFAH ISLAMIYAH DAN UPAYA PENEGAKANNYA

A. Sejarah Runtuhnya Khilafah Islamiyyah

Sesungguhnya keberadaan Harokah Islamiyyah, Daulah, Khilafah dan keberadaan Kitabullah serta Sunnah yang menuntun dan menerangi umat manusia adalah sangat penting sebagaimana pentingnya arti makanan, minuman dan udara bagi manusia itu sendiri. Tak mungkin seseorang dapat hidup dengan sempurna keislamannya bila tidak berada dalam naungan pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyyah)

Sejak dulu hingga kini fokus kaum kafir yang pertama adalah berupaya meruntuhkan Khilafah Islamiyah, mereka sadar bahwa keberadaan Khhilafah bagi kaum muslimin ibarat menera api yang memberikan lentera penerang di malam yang gelap gulita.

Sejarah mencatat bahwa setelah Imperealis Inggris mencaplok kota Cairo dan Beirut serta menguasai kota tersebut pada tahun 1882 M, Cairo dan Beirut di jadikannya sebagai markae persengkongkolan tangan-tangan jahat untuk menghancurkan Daulah Utsmaniayh Turki.

Puncak persekongkolan mereka adalah munculnya tokoh sekuler semacam Musthofa Kamal yang berhasil menjadi oang terkuat di Turki dimana pada tahun 1922 Musthofa Kamal dan mentri Luar Negeri Inggris saat itu ( Corazon) mengadakan perundingan yang menghasilkan 4 point (persyaratan) :

1. Meruntuhkan atau menjatuhkan Khilafah.

2. Menumpas upaya apapun yang hendak mengembalikan sistem Khilafah.

3. Memerangi syiar-syiar Islam .

4. Mengambil undang-undang Eropa sebagai ganti bagi undang-undang Negara Turki yang berdasarkan hukum Islam.

Sebagai konsekwensi perundingan di atas, Musthofa Kamal melarang HIJAB bagi para wanita, memerangi syi’ar-syi’ar Islam, melarang penulisan-penulisan Al qur’an dengan bahasa Arab, memerintahkan imam-imam masjid mengimami sholat dengan bahasa Turki, melarang haji, melarang sholat berjama’ah bagi pegawai pemerintah, bahkan memerintahkan satuan-satuan polisi untuk merazia wanita-wanita yang mengenakan hijab lebih dari itu mereka diberi wewenang untuk merobek-robek pakaian paara wanita muslimah di pasar-pasar dan di tempat-tempat umum lainnya.

Perbuatan jahat Musthofa Kamal terus berlanjut hingga Allah membinasakannya pada tahun 1938. bahkan kesombongan dan kebangaan Musthofa Kamal terhadap dirinya benar-benar telah mencapai klimaksnya, sehingga pada saat akhir hidupnya Musthofa Kamal sempat mengepalkan tangannya ke langit mengancam Robul ‘Alamin.

Para sejarawan mencatat bahwa Khilafah Islamiyyah terakhir yang ada di Turki dengan Khilafah Utsmaniyahnya jatuh ada tahun 1924.

Sebagai upaya penegakan khilafah Islamiyyah Syeikh Abdullah Azzam berkata : “Daulah Islamiyah (Khilafah Islamiyyah) dan hukum Islam tidak akan tegak kecuali dengan Jihad dan Jihad bisa ditegakkan jika ada Harokah Islamiyyah yang mendidik para pengikutnya dengan tarbiyyah atau pendidikan Islam. [Runtuhnya Khilafah Dan Upaya Penegakannya, hal. 171]
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq, makalah

SEKILAS TENTANG DEMOKRASI

Sampai hari ini, perbedaan pendapat mengenai sesuai tidaknya demokrasi dengan Islam tetap menjadi polemik tersendiri. Sebagian umat Islam yang menerima demokrasi mendirikan partai-partai Islam dan memasuki perjuangan lewat pemilu dan MPR/PARLEMEN. Bagi mereka, amat tidak masuk akal menyatakan demokrasi bertentangan dengan Islam. Sebaliknya, pihak umat Islam yang menolak demokrasi tetap bersikeras menyatakan kekufuran dan kesyirikan demokrasi. Kedua pendapat yang bertentangan ini sulit dicarikan titik temu. Tak jarang karena tidak memahami adab ikhtilaf yang baik akhirnya terjadi saling menghujat dan menyalahkan sesama aktivis Islam. Kajian ini berusaha untuk mencari kebenaran tentang hakekat demokrasi sebenarnya dan mendiskusikan kedua pendapat tadi secara jujur dan obyektif. Semoga bermanfaat. Wallahu al Musta’an.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Aqidah, dirosatul firoq, Uncategorized

SYI’AH

I. TA’RIF (DEFINISI)

A. Secara Etimologi :
Berasal dari kata: اَلْأَتْبَاع: Pengikut, اَلْأَنْصَارُ: Penolong اَلْخَاصَّةُ: Teman dekat
Ad Dzahiri berkata:

وَالشِّيْعَةُ أَنْصَارُ الرَّجُلِ وَأَتْبَاعُهُ, وَكُلُّ قَوْمٍ اجَتَمَعُوا عَلَى أَمْرِ فَهْمِ شِيْعَةٍ

“Syi’ah adalah penolong dan pengikut seseorang, dan setiap kaum yang berkumpul atas suatu urusan, maka mereka disebut Syi’ah.” [Tahdzibul Lughah : 3/61]

Az Zubaidi berkata:

كُلُّ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا عَلَى أَمْرٍ فَهُمْ شِيْعَةٌ, وَكُلُّ قَوْمٍ عَاوَنَ إِنْسَانًا وَتَحْزُبُ لَهُ فَهُوَ شِيْعَةٌ لَهُ, وَأَصْلُهُ مِنَ الْمُشَيَعَةِ وَهِيَ لِمُطَاوَعَةِ وَالمُتَابَعَةِ

“Setiap kaum yang berkumpul atas suatu urusan, maka mereka disebut Syi’ah, dan setiap kaum yang menolong manusia dan berkelompok kepadanya disebut Syi’ah baginya. Aslinya adalah dari kata الْمُشَايَعَةُ (yang berarti) ketundukan dan mengikuti.”[ Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzimu : 3/131].

PEMAKAIAN NAMA SYI’AH DI DALAM AL QUR’AN AL KARIM

Kalimat Syi’ah dan pecahannya yang bermakna secara bahasa, yang berlaku di dalam Al Qur’an al Karim adalah:

1. Yang bermakna firqah (kelompok) atau ummat atau jama’ah (kumpulan) manusia

Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ َلنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيْعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا {69}

“Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap Syi’ah siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Ar Rahman (Yang Maha Pemurah).” (QS. Maryam: 69).
Maksud dari ‘tiap-tiap Syi’ah’ adalah “Dari tiap kelompok Jama’ah dan ummat”.

2. Yang bermakna firqah

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اَّلذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَىْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah dien-Nya dan mereka menjadi Syi’ah tidak ada tanggung jawabmu sedikitpun terhadap mereka.” (QS. Al An’am: 159). Maksud dari “Mereka menjadi Syi’ah” adalah “Golongan”.[ Tafsir Al Manar : 8/214]

3. Bermakna Serupa

Firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَآ أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ {51}

“Dan sungguh telah Kami binasakan “As Syi’ah” dari kalian, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran.” (QS. Al Qomar: 51) Maksud dari “As Syi’ah dari kalian” adalah “Yang serupa dengan kalian dalam kekufuran, dari ummat-ummat yang terdahulu”.[ Jami’u Al Bayan : 27/112]

4. Bermakna pengikut, teman dekat, dan penolong

Allah Ta’ala berfirman:

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِّنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلاَنِ هَذَا مِن شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِينٌ {15}

“Maka didapatinya di dalam kota dua orang laki-laki yang berkelahi, yang seorang dari Syi’ahnya (bani isail) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir’aun), maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (QS. Al Qashash: 15). [Tahdzib Al Lughah : 3/63 ].
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Aqidah, dirosatul firoq, Uncategorized

Mu’tazilah

1. Definisi

Secara Bahasa :
Kata Mu’tazilah berasal dari kata ‘azala–ya’taziluhu ‘azlan wa’azalahu fa’tazala wa-in’azala wa-ta’azzala yang artinya menyingkir atau memisahkan diri.[1]
Secara Istilah :
Mu’tazilah berarti sebuah sekte sempalan yang mempunyai lima pokok keyakinan (al ushul al-khamsah), meyakini dirinya merupakan kelompok moderat di antara dua kelompok ekstrim yaitu Murji’ah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya dan Khawarij yang menganggap pelaku dosa besar telah kafir.[2]

2. Awal Kelahiran dan Penamaan Mu’tazilah

Di kalangan para peniliti terjadi perbedaan pendapat yang cukup mencolok mengenai asal usul penamaan Mu’tazilah. Penyebabnya adalah penamaan tersebut erat kaitannya dengan berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di dunia Islam pada masa kelahiran gerakan ini. Pendapat-pendapat tersebut di antaranya:
(1). Sebagian pihak menyatakan penamaan Mu’tazilah berasal dari lawan mereka yaitu Ahlus Sunah wal Jama’ah.
(2). Sebagian pihak lain menyatakan nama Mu’tazilah berasal dari diri mereka sendiri.
(3). Sebagian pihak menyatakan Mu’tazilah lahir dengan adanya i’tizal siyasi (pengasingan diri dari dunia politik) pada masa awal fitnah (masa kekhilafahan Ali). Sebagian peneliti lain menyatakan Mu’tazilah lahir karena sebab-sebab lain.[3]

Mayoritas peneliti yang menyatakan penamaan Mu’tazilah berasal dari Ahlus Sunah wal Jama’ah mengaitkan penamaan tersebut dengan perdebatan mengenai hukum pelaku dosa besar antara Imam Hasan Al Bashri dan Washil bin Atha’ (80 H-131 H) yang hidup pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik Al Umawy.
Imam Hasan Al Bashri mempunyai majelis pengajian di masjid Bashrah. Pada suatu hari seorang laki-laki masuk ke dalam pengajian imam Hasan Al Bashri dan bertanya,” Wahai imam, di zaman kita ini telah timbul kelompok yang mengkafirkan para pelaku dosa besar yaitu kalangan Wa’idiyah Khawarij dan juga timbul kelompok lain yang mengatakan maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat sama sekali bila bersama kekafiran yaitu kelompok Murji’ah. Bagaimana sikap kita?” Imam Hasan Al Bashri terdiam memikirkan jawabannya, saat itulah murid beliau yang bernama Washil menyela,” Saya tidak mengatakan pelaku dosa besar itu mukmin secara mutlak dan tidak pula kafir secara mutlak, namun dia berada di satu posisi di antara dua posisi, tidak mukmin dan tidak pula kafir.” Jawaban ini tidak sesuai dengan ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunah yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin namun imannya berkurang. Tentu saja Imam Hasan Al Bashri membantah jawaban Washil yang tak berlandaskan dalil tadi. Washil kemudian pergi ke salah satu sudut masjid, maka imam Hasan Al Bahsri berkata,” Ia telah memisahkan diri dari kita (I’tazalnaa).” Sejak saat itu ia dan orang-orang yang mengikutinya di sebut Mu’tazilah, artinya kelompok yang memisahkan diri (menyempal).[4]

Mayoritas peneliti menyatakan pendapat mereka yang menyelisihi Ahlus Sunah wal Jama’ah dalam masalah hukum pelaku dosa besar inilah yang menyebabkan mereka dikenal sebagai sekte Mu’tazilah. Al Baghdadi menambahkan satu sebab lagi, yaitu pendapat mereka yang menyelisihi Ahlus Sunah wal Jama’ah dalam masalah taqdir.[5]

Dalam perkembangan selanjutnya, sekte Mu’tazilah mempunyai banyak nama, baik penamaan dari mereka sendiri maupun dari pihak luar. Nama-nama tersebut adalah:

 Mu’tazilah, berawal dari penamaan imam Hasan Al Bashri terhadap Washil bin Atha’ seperti yang telah disebutkan di awal tadi.

 Jahmiyah, dinamakan demikian karena Jahmiyah lebih dahulu muncul, juga karena Mu’tazilah sependapat dengan Jahmiyah dalam beberapa hal dan karena di awal kemunculannya Mu’tazilah menghidupkan prinsip-prinsip Jahmiyah.[6]

 Qadariyah (kelompok yang menolak iman kepada taqdir), dinamakan demikian karena mereka juga mengingkari taqdir dan berpendapat manusialah yang menciptakan perbuatannya sebagaimana pendapat Qadariyah .

 Tsanawiyah dan Qadariyah, dinamakan demikian karena Mu’tazilah berpendapat bahwa perbuatan baik itu dari Allah dan perbuatan jelek itu dari manusia. Ini menyerupai Tsanawiyah dan Qadariyah yang meyakini adanya dua tuhan, tuhan kebaikan dan tuhan kejahatan.

 Wa’idiyah, dinamakan demikian karena mereka berpendapat bahwa Allah harus menyiksa pelaku dosa yang belum bertaubat sebelum matinya.

 Mu’athilah (kelompok yang meniadakan), dinamakan demikian karena mereka meniadakan sifat-sifat Allah.

 Ahlul ‘Adl Wat Tauhid Wal ‘Adalah (kelompok yang bertauhid dan menegakkan keadilan). Ini nama yang mereka akui berdasar aqidah lima pokok mereka.
 Ahlul Haq (kelompok yang berada di atas kebenaran). Ini nama yang mereka akui berdasar aqidah lima pokok mereka.

 Firqah Najiyah (kelompok yang selamat). Ini juga nama yang mereka yang mereka sematkan untuk mereka sendiri.

 Al Munazihun Lillah (orang-orang yang mensucikan Allah). Ini juga nama yang mereka sematkan untuk mereka sendiri.[7]

 Al Haraqiyah: Karena mereka berpendapat bahwa orang kafir tidak disiksa dalam api neraka kecuali sekali saja.

 Al Mufaniyah: Karena mereka berpendapat bahwa neraka dan surga itu tidak kekal.
 Al Lafdziyah: Karena mereka berpendapat bahwa lafal-lafal Al Qur’an itu adalah makhluk.
 Al Qabriyah: Karena mereka berpendapat bahwa adzab kubur itu tidak ada.[8]
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq, Uncategorized

KHAWARIJ

DEFINISI KHOWARIJ

Ditinjau secara bahasa, khawarij adalah bentuk jama` dari kata kharij, yaitu isim fa`il dari kata kharaja yang berarti keluar, hal itu disebabkan karena keluarnya mereka dari dien atau keluarnya mereka dari imam, bahkan keluarnya mereka dari manusia.

Ditinjau secara istilah, para ulama` berbeda dalam hal ini :

1. Ada yang memaksudkan khawarij secara umum yaitu sebagai satu sikap politik. Siapa saja yang` keluar` dari ketaatan kepada imam yang kepemimpinannya itu dibenarkan menurut syar’i, kapan pun itu terjadi.

Imam Asy-Syahrastaniy memberikan komentar, : ” Tiap-tiap orang yang keluar dari imam yang haq, yang telah di sepakati oleh jama`ah, maka ia dinamakan khawarij, baik itu terjadi pada masa shahabat yaitu keluarnya mereka dari khalifah yang empat ataupun pada masa tabi`in serta imam-imam pada setiap masa”.

2. Ada juga yang mengkhususkan khawarij untuk kelompok yang keluar dari Imam Ali ra saja.

Imam Al-Asy`ariy berkata :”Faktor yang menyebabkan mereka disebut khawarij adalah keluarnya mereka dari Ali bin Abi Thalib”.

Imam Ibnu Hazm menambahkan bahwa istilah khawarij itu dinisbatkan juga kepada semua kelompok atau pecahan yang dahulu keluar dari Ali bin Abu Thalib atau yang mengikuti paham mereka, kapan pun itu terjadi.

3. Sebagian ulama` Ibadhiyah berpendapat :”Mereka adalah sebagian kelompok manusia pada zaman Tabi`in dan Tabiuttabi`in. Yang pertama kalinya adalah Nafi` bin Azrad “. Akan tetapi pendapat ini lemah karena ulama` firoq tidak ada yang berpendapat seperti itu, kecuali dari golongan Ibadhiyah.

Ghalib bin Ali A`waj berkata :” Yang paling rajih ( kuat ) adalah pendapat yang kedua karena banyaknya ulama` firoq yang berpendapat seperti itu.

Firqah khawarij sering pula disebut dengan beberapa nama lain, seperti :

Al-Haruriyah ( dinisbahkan kepada nama wilayah dekat kufah, tempat mereka berada ), Asy-Syarah (orang-orang yang rakus, versi mereka ini dinisbat kepad asyira` ( membeli ) yang termuat dalam Qs. At-Taubah :11), Al-Mariqah ( yang lepas dari islam, ini adalah nama yang diberikan oleh Nabi ), Al-Muhakkimah ( karena mereka menolak tahkim antara Ali dan Mu`awiyah ), dan An-Nawashib ( karena kebencian mereka terhadap Ali bin Abi thalib ).
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Aqidah, dirosatul firoq, Uncategorized

MURJI’AH

I. PENGERTIAN
Murji’ah secara etimologi memiliki arti :
1. التأخير : Mengakhirkan. Tartibul Qamus Al Muhid : 2 / 313
2. الخوف : Takut. Al Misbahul Al Munir : 84
3. Angan-angan
4. Memberi
5. Mengharap.

Firman Allah Ta’ala dalam surat An Nisa’, ayat 104:
وَتَرْجُوْنَ مِنَ الله ِمَالَا يَرْجُوْنَ
“Sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.”
Dan firman-Nya dalam Surat Nuh, ayat 13:
مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لله َوَقَارًا
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah.”
Al Azhari menyebutkan perihal kata-kata Raja’ yang mempunyai arti ‘takut’ yaitu apabila lafadz Raja’ bersama dengan huruf nafi.

ٍSedangkan kata-kata Irja’ yang mempunyai arti takhir (mengakhirkan) sebagaimana dalam firman-Nya surat Al a’raaf:111 yang dibaca arjikhu yaitu akhirhu. Firaq Muashirah , Ghalib Ali Awwaji, Juz II hal : 745
Secara terminologi para ulama berbeda pendapat tentang ketepatan dalam mengartikan kalimat Murji’ah, secara ringkas kalimat Murji’ah adalah:

1. Al Irja’ : Mengakhirkan amal dari Iman.
Al Bagdadi berkata : “Mereka dikatakan Murji’ah dikarenakan mereka mengakhirkan amal dari pada iman.” Syarh Usul ‘Itiqad :1/ 25

Alfayaumy berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak memberi hukuman kepada seseorang di dunia akan tetapi mereka mengakhirkan hukuman tersebut hingga datangnya hari kiamat.” Al Misbahul Al Munir : 84

2. Irja’ diambil dari bahasa yang berarti “takhir dan imhal“ (mengakhirkan dan meremehkan). Irja’ semacam ini adalah irja’ (mengakhirkan) amal dalam derajat iman serta menempatkannya pada posisi kedua berdasarkan iman dan dia bukan menjadi bagian dari iman itu sendiri, karena iman secara majaz, di dalamnya tercakup amal. Padahal amal itu sebenarnya merupakan pembenar dari iman itu sendiri sebagaimana yang telah diucapkan kepada orang–orang yang mengatakan bahwa perbuatan maksiat itu tidak bisa membahahayakan keimanan sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir.
Pengertian seperti ini tercakup juga di dalamnya orang-orang yang mengakhirkan amal dari niat dan tashdiq (pembenaran).

3. Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Irja’ adalah mengakhirkan hukuman kepada pelaku dosa besar sampai datangnya hari kiamat yang mana dia tidak akan diberi balasan atau hukuman apapun ketika masih berada di dunia.

4. Sebagian mereka ada yang mengartikan Irja’ dengan perkara yang terjadi pada Ali, yaitu dengan memposisikan Ali pada peringkat ke-empat dalam tingkatan sahabat. Atau mengakhirkan (menyerahkan) urusan Ali dan Utsman kepada Allah subhanahu wata’alla serta tidak menyatakan bahwa mereka berdua beriman atau kafir.

Sebagian kaum Murji’ah yang lain ada yang tidak memasukkan sebagian sahabat Nabi Muhammad SAW yang berlepas diri dari fitnah yang terjadi antara sahabat Ali dan Muawiyah sebagai sahabat Rasulullah SAW.[1]
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq

NAMA-NAMA LAIN AHLU SUNAH WAL-JAMA’AH

Telah kita terangkan pada edisi yang lalu makna Ahlu Sunah wal Jama’ah. Kali ini, untuk lebih mengenal Ahlu Sunah kita ketengahkan beberapa nama lain Ahlu Sunah.

AHLU HADITS
1. Hadits secara bahasa berarti baru, lawan kata dari lama. Makna lainnya adalah khabar/berita. Dalam ayat disebutkan,’ Adapun dengan nikmat Rabbmu maka sebutlah/ceritakanlah.”[QS al Dhuha;11]. Artinya beritakanlah. Dalam pengertian selanjutnya sering dipakai untuk berita tertentu dalam dien [agama], seperti perkataan shahabat Ibnu Mas’ud,” Sesungguhnya sebaik-baik hadits [ucapan,berita] adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad …”

2. Hadits secara syar’i berarti apa yang dinisbahkan/disandarkan kepada Rasululah baik berupa perkataa, perbuatan, taqrir {penetapan} maupun sifat fisik dan akhlak beliau. Berdasar definisi ini imam Kirmani dan athibi tidak menyebut perkataan dan perbuatan shahabat {dalam disiplin ilmu hadits disebut sebagai hadits mauquf}.maupun perkataan dan perbuatan tabi’in {dalam disiplin llmu hadits disebut sebagai hadits maqthu’} sebagai hadits. Namun demikian, mayoritas ulama menyamakan antara hadits dengan sunah {arti sunah bisa dibaca pada edisi lalu}. Dengan demikian hadits mauquf dan hadits maqthu’ juga termasuk / bisa disebut hadits. [Ath Thohan 15, Al Athr 26-27, Al Khothib 20-21]. Ilmu hadits ada dua ; 1) Ilmu Hadits Riwyah yaitu ilmu yang mmepelajari perkataan, perbuatan, penetapan dan sifat Rasulullah. 2)Ilmu Hadits Dirayah atau juga dikenal dengan nama Ilmu Mustholahil Hadits yaitu ilmu yang membahas sanad {mata rantai perowi hadits} dan matan {kandungan sebuah hadits}.

3. Makna Ahlul Hadits. .Jika disebut Ahlul Hadits maka maknanya adalah para ulama dan pelajar yang mempelajari hadits-hadits nabi baik secara dirayah maupun riwayat dengan mengerahkan kemampuan dan kesungguhan, mengikuti kandungan hadits baik secara ilmu maupun secara pengamalan dengan menjauhi bid’ah dan hawa nafsu. [al Mishri 54]. Dengan demikian, Ahlu Haidts semakna dengan Ahlu Sunah, artinya mereka ini kelompok umat Islam yang paling berpegang teguh dengan sunah Rasulullah dan jama’ah. Karenanya imam Ahmad mengatakan,” Kalau mereka {jama’ah} itu bukan ahlu hadits, saya tidak tahu lagi siapa mereka itu.” Imam Abu Ismail Ash Shobuni dalam kitab beliau “ Aqidatu Salaf Ashabul Hadits “ menyatakan,” ..Mereka itu mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabat beliau yang mereka itu laksana bitang…Mereka mengikuti salafush sholihin dari kalangan imam-imam dalam dien ini dan ulama kaum muslimin dan berpegang teguh dengan apa yang para ulama berpegang teguh dengannya yautu dien yang kuat dan kebenaran yang nyata dan membenci ahlu bid’ah yang mebuat bid’ah dalam dien, tidak mencintai mereka dan tidak pula brshahabat dengan mereka.” [Al Mishri 54].

4. Dari sini bisa diketahui Ahlu Sunah dan Ahlu Hadits itu semakna. Jika keduanya berdiri sendiri / bila salah satu disebutkan [Ahlu Sunah saja, atau ahlu hadits saja] tanpa yang lain, maknanya adalah satu sama lain saling memuat. Jika disebut ahlu sunah, maka ahlu hadits masuk didalamnya begitu juga sebaliknya. Dengan artian ini seluruh kelompok ahlu sunah masuk di dalamnya, baik kalangan ahli hadits, ahli fiqih, ahli ibadah, ahli perang [mujahidin} dan sluruh kelompok lainnya. Arti ini menjadi kata lain dari ahlul haqq {pengikut kebenaran}. Bila kedanya disebutkan secara bersamaan, maka makna ahlu hadits adalah khusus untuk para pakar hadits saja sedang ahlu sunah umum untuk kelompok ahli ibadah, ahli fiqih, ahli perang dan seterusnya. [alMishri 55, menukil dari Majmu’ Fatawa 4/91-95].
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq, Uncategorized

AHLUS SUNAH WAL JAMA’AH

1. DEFINISI SUNAH

SECARA BAHASA

Kata as Sunah yang mempunyai bentuk jamak / plural sunan secara bahasa berarti sejarah [perjalanan hidup] dan jalan [metode] yang dtempuh.

Ibnu Mandhur berkata,” Sunah makna awalnya adalah sunah thoriq yaitu jalan yang ditempuh oleh para pedahulu yang akhirnya ditempuh orang lain sesudahnya.”

Pengarang Mukhtarush Shihah [hal.339] berkata,” As Sunah secara bahasa berarti sejarah dan jalan yang ditempuh baik itu jalan yang terpuji maupun yang tercela.”

Ath Tanawy dalam Kasyfu Isthilahat wa al Funun [hal.703] berkata,” As Sunah secara bahasa adalah jalan, baik jalan itu terpuji[baik] maupun buruk.” [A’dzami 1/1]

Ibnu Faris berkata dalam Mu’jam Maqayisi Lughah 3/60,” Sunah artinya perjalanan hidup. Sunah Rasulullah artinya perjalanan hidup beliau. Sunah juga berarti jalan/metode baik terpuji maupun tercela. Kata ini diambil dari kata sunan yang bermakna jalan seperti disebutkan dalam hadits

“ Barang siapa mengawali jalan yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka. Barangsiapa mengawali jalan yang buruk dalam Islam maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanapa berkurang sedikitpun dosa mereka.”[ Muslim no. 1017, juga no. 6800,6801]. ( Al Mahmud I/22, Al Qafari I/23).

Ibnu Atsir dalam Nihayah 2/223 berkata,“ Dalam hadits berulang kali disebutkan kata as sunah dan pecahan katanya. Asal maknanya adalah sejarah hidup dan jalan yang ditempuh.’ ( Al Mahmud I/23). Makna ini juga disebut dalam hadits,”

“ Kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta, sampai kalau mereka masuk lubang biawakpun kalian akan ikut.” Para shahabat bertanya,” Apakah orang Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab,”Siapa lagi kalau bukan mereka.” [ Bukhari 3456, Fathul Bari VI/495,Muslim 2669/6781]

Begitu juga bila dikatakan,” Sholat witir itu sunah maka maknanya adalah jalan/ hal yang diperintahkan dan dilaksanakan para shahabat dan Rasulullah. [Al Mahmud I/23].

Dalam penggunaannya bila disebut kata sunah maka maknanya adalah jalan kebaikan saja. Ia ahlu sunah maka maknanya ia orang yang menempuh jalan yang lurus dan terpuji. [ al Mahmud 1/23, al Qafari 1/23, al Athr 26-27, dari Lisanul Arab].
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq, Uncategorized,

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 317,252 hits

Pengunjung

online