At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Benarkah Solusi itu Adalah Partai Politik Islam?

Membincangkan demokrasi menjelang pemilu selalu menarik. Tapi seusai pemilu, tema demokrasi kembali dilupakan. Daya tarik demokrasi terletak pada tawaran-tawaran yang diberikan kepada para “pemeluknya”. Dengan tawaran ini, demokrasi mampu mengambil hati para islamis sehingga mereka begitu setia membelanya. Demokrasi berubah menjadi semacam keyakinan yang harus diperjuangkan dengan segenap jiwa dan raga. Seorang muslim kemudian memiliki aqidah atau kesetiaan ganda; kepada Islam dan kepada Demokrasi.

Demokrasi memiliki wilayah kerja yang luas. Bukan semata ranah politik, tapi juga ekonomi, konsep berpikir, keyakinan, hukum, dan sosial kemasyarakatan. Oleh karenanya, Demokrasi cukup syarat untuk disebut agama, atau setidaknya ideologi. Banyak hal yang kontradiktif antara prinsip Demokrasi dengan prinsip Islam.

thumb.phpSeorang muslim tak bisa memiliki keyakinan dan pembelaan ganda; Islam sekaligus Demokrasi. Sebab kontadiksi yang terjadi bersifat tadhad (tidak bisa dikompromikan) seperti kontadiksi antara gerak dengan diam. Sesuatu hanya bisa disebut gerak atau diam. Tak mungkin disebut gerak diam.

Tapi bagaimana dengan memanfaatkannya tanpa meyakininya? Apalagi memanfaatkannya untuk kepentingan Islam dan umat Islam, bukan menjadikannya sebagai keyakinan dan ideologi. Bisakah?
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu

SUKSES MENGELOLA WAKTU

Ketika kita ingin menggapai sesuatu tujuan, entah itu namanya mimpi atau cita-cita, pasti kita berangan-angan tentang apa yang akan kita lakukan ketika kita mencapai tujuan tersebut. Membayangkan satu kejayaan yang akan kita dapatkan bila berhasil namun kita sering lupa membayangkan satu hal, yaitu bagaimana menggapai tujuan tersebut. Ya, manusia sering jump to conclusion tiap kali mereka ingin sesuatu. Padahal untuk mencapai suatu tujuan tidak semudah membayangkan hasil dari tujuan tersebut.

Demikian pula saat seseorang ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, tetapi dia tidak berusaha dengan waktu yang telah Allah berikan untuk mengisinya dengan amalan-amalan yang membawa kebahagiaan tersebut, maka ini adalah bohong. Ada sebuah sya’ir arab mengatakan :

تَرْجُ النَّجَاةَ وَلمْ تسْلك مَسالِكَها إنَّ السَّفِينَة لا تجَرْي عَلى اليَبِسِ
Kamu mengharap keberhasilan dan tidak mau menempuh jalannya
Sesungguhnya kapal tidak akan berjalan di daratan

Salah satu hal yang mengganggu kita untuk menggapai tujuan atau kesuksesan kita adalah kemalasan. Apapun bentuknya entah menunda-nunda pekerjaan, atau bahkan tidak melakukan pekerjaan sama sekali membuat kita tidak akan bisa menggapai tujuan tersebut.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

PENTINGNYA WAKTU BAGI SEORANG MUKMIN

Jika orang barat mengatakan “time is money” waktu adalah uang, maka pepatah arab mengatakan “’al-waqtu huwa al-hayâh” waktu adalah kehidupan. Ada juga yang mengatakan
الوَقْتُ كَالسَّيْفِ # فَإِنْلَمْ تَقْطَعْ قَطَعَكَ
Waktu ibarat pedang
Jika kau tidak bisa menggunakannya, maka akan memotongmu

Tiga kata mutiara ini menggambarkan akan pentingnya waktu bagi kehidupan seseorang. Jika yang pertama menggambarkan akan pemikiran materialistis, tetapi yang kedua dan ketiga menggambarkan arti yang lebih penting dari sekedar uang.

Yang dimaksud dengan kehidupan adalah, waktu yang dilalui manusia saat ia dilahirkan hingga ia wafat. Dengan definisi kehidupan seperti di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, seseorang yang membiarkan waktunya berlalu sia-sia, dan lenyap begitu saja, sama artinya ia –dengan sengaja atau tidak sengaja- telah melenyapkan sisa-sisa masa kehidupannya. Al-Hasan al-Bashri berkata,

يَا ابْنَ آدَم، إنَّمَا أنْتَ أيَّامٌ !، فَإذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari-hari”, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.” [ Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi ].

Sekali bahwa ketika kita menyia-nyiakan dan membuang waktu kita tanpa hal yang berarti untuk agama dan kemaslahatan umat, maka ketika itu juga sesungguh kita telah membunuh diri kita sendiri. Betapa waktu itu sangat berharga dan jangan biarkan ia berlalu begitu saja.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu

PENYEBAB KERASNYA HATI

hati yang kerasHati sesungguhnya diciptakan dalam keadaan lembut dan mudah tersentuh. Namun seiring perjalanan waktu, banyak hal yang menjadi bebal. Entah karena kemaksiatan atau jarang mengasahnya dengan ibadah dan tafakur.

Maka jika hati sudah bebal, untuk melembutkannya bukan pekerjaan ringan. Bahkan bagi sebagian orang ia lebih berat ketimbang pekerjaan lain semisal bersedekah. Karena itu, Abdullah bin Umar mengatakan, “Sungguh menangis karena takut kepada Allah lebih aku cintai daripada bersedekah dengan 1000 dinar.” Mungkin maksud Abdullah bin Umar, menangis karena Allah lebih berat dibanding bersedekah 1000 dinar.
Rasulullah berlindung dari hati yang keras dan tidak khusyu’.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan,” (HR. Muslim).

Agar hati menjadi lembut, peka, sensitif, khusyu’ dan mudah meneteskan air mata karena takut dan rindu kepada Allah, maka seseorang harus memahami penyebab pembebal hati. Inti dari pembebal hati ketika seseorang memberikan porsi berlebihan atau melampaui batas pada lisan, perut, dan syahwatnya. Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, tazkiyah

KEPADA ANDA YANG BELUM BERANGKAT JIHAD

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنِي بُسْرُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنِيyatim زَيْدُ بْنُ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا

Telah bercerita kepada kami Abu Ma’mar telah bercerita kepada kami ‘Abdul Warits telah bercerita kepada kami Al Husain berkata telah bercerita kepadaku Yahya berkata telah bercerita kepadaku Abu Salamah berkata telah bercerita kapadaku Busr bin Sa’id berkata telah bercerita kapadaku Zaid bin Khalid radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang mempersiapkan (bekal) orang yang berperang di jalan Allah berarti dia telah berperang (mendapat pahala berperang). Dan barang siapa yang menjaga (menanggung urusan rumah) orang yang berperang di jalan Allah dengan baik berarti dia telah berperang”. (HR. Bukhori 2631, Muslim : 12/425 ).

Sejarah telah mencatat kemenangan dalam berbagai pertempuran yang dilakukan oleh kaum muslimin. Semua kemenangan tersebut didapatkan kerena kekompakan kaum muslimin dalam mengusung jihad fisabilillah. Tidak ada seorangpun yang tidak berperan dalam jihad fi sabilillah kecuali orang-orang munafik.
Gambaran ini dapat dilihat jelas disaat perang Tabuk. Kaum muslimin mendengar persiapan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Romawi dengan jumlah pasukan sekitar empat puluh ribu personil. Keadaan semakin kritis, karena suasana kemarau. Kaum muslimin tengah berada di tengah kesulitan dan kekurangan pangan.

Mendengar persiapan besar pasukan Romawi, kaum muslimin berlomba melakukan persiapan perang. Para tokoh sahabat memberi infaq fi sabilillah dalam suasana yang sangat mengagumkan. Utsman menyedekahkan dua ratus onta lengkap dengan pelana dan barang-barang yang diangkutnya. Kemudian ia menambahkan lagi sekitar seratus onta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya. Lalu ia datang lagi dengan membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Utsman terus bersedekah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus onta seratus kuda, dan uang dalam jumlah besar. Abdurrahman bin Auf membawa dua ratus uqiyah perak. Abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya. Umar datang menyerahkan setengah hartanya. Tidak kalah dengan para sahabat yang lainnya datang kepada Rassulullah sallallahu alaihi wasallam untuk membantu pembiayaan pasukan tersebut.
Demikian juga dengan sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu yang ditinggal mengurusi keluarga mereka. Beliau urus semua keluarga dengan baik, walau sebenarnya beliau juga berkeinginan berangkat berjihad. Demikianlah peran seluruh ummat islam dalam jihad fi sabilillah dengan tanpa meremeh bagian satu dengan bagian yang lainnya. Jika seluruh komponen ummat sadar dan beramal semaksimal mungkin entah menjadi mujahid atau mengurusi seluruh kebutuhan para mujahid, dengan izin Allah kemenangan akan datang.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Tafsir

JUJURKAH NIAT JIHAD KITA ?

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى وَاللَّفْظُ لِحَرْمَلَةَ قَالَ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا و قَالَ حَرْمَلَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو niat jihadشُرَيْحٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ فِي حَدِيثِهِ بِصِدْقٍ

Artinya :”Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir dan Harmalah bin Yahya dan ini adalah lafadz Harmalah, Abu At Thahir berkata; telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Harmalah mengatakan; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepadaku Abu Syuraikh bahwa Sahl bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif telah menceritakan kepadanya dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya sampai ke derajat para syuhada’ meski ia meninggal dunia di atas tempat tidur.” Dan dalam hadits yang diriwayatkan Abu At Thahir tidak menyebutkan, ‘Dengan sungguh-sungguh.’”(HR. Muslim 1909 ).

Banyak diantara kaum muslimin yang merindukan jihad fisabilillah. Mereka berkeinginan jika dirinya ikut dalam kafilah untuk membela din Allah Ta’ala. Saking semangatnya, banyak diantara mereka yang agak memaksakan diri untuk berjihad padahal belum siap secara ilmu, jasad dan juga sarpra. Apalagi menyiapkan ummat untuk menerima, mendukung dan bahkan siap bergabung dalam berjihad fi sabilillah.
Usaha yang serius dengan melakukan tahapan-tahapan jihad sehingga ia benar-baner matang jika sewaktu-waktu diseru untuk jihad fisabilillah adalah hal yang penting, dari pada memaksakan diri untuk terjun kemedan jihad dengan tanpa persiapan apapun. Pada posisi apapun kita hari ini, jika memang berusaha untuk memperjuangkan din Allah dengan niat yang jujur, Allah akan tulis amal kita sebagai amalnya para syuhada’. Karena memang jihad membutuh seluruh komponen ummat untuk mendukungnya.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

PENGARUH HARTA YANG HALAL

Harta yang halal hanya didapatkan dengan perasaan qona’ah. Yaitu perasaan cukup dengan pemberian Allah meskipun sedikit. Hal inilah yang menjaganya untuk mencari harta dengan jalan yang diharamkan. Dan tidaklah seorang hamba deberikan sesuatu yang lebih mulia lebih dibandingkan qona’ah. Ialah yang akan menjadikan seorang hamba senantiasa kaya walau berpenghasilan sedikit ataupun banyak. Hatinya selalu ridha dengan pemberian Allah sehingga melahirkan perasaan senang, tenang, mulia dan perasaan-perasaan lain.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah

SIFAT-SIFAT ORANG MUNAFIK

Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam banyak ayat tentang orang-orang munafik, diantaranya;
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An Nisa’ 4 : 61)

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS. At Taubah 9 : 73)

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap kebenaran pasti memiliki musuh. Begitu juga dengan kebenaran Islam, pasti akan dimusuhi oleh syaitan dan pengikutnya.

Maka wajib bagi kita untuk mengetahui siapa yang sebenarnya menjadi musuh-musuh Allah Ta’ala dan mengenali sifat-sifat mereka. Tujuannya agar kita mengantisipasi dan segera mengambil langkah-langkah dalam mengatasinya.

Di antara musuh-musuh Allah atau pengikut syaitan (Hizbu syaithon) yang gencar memusuhi Islam ialah golongan munafikin. Mereka adalah orang-orang yang berpura pura menjadi mukmin. Tetapi di dalam hati mereka kekafiran dan pendustaan. Mereka benci dan memusuhi terhadap kebenaran yang datang dari Allah Ta’ala serta berusaha untuk menghancurkan dan menghalangi penyebaran cahaya Islam.

Kamunafiakan zaman kita ini lebih parah dibandingkan pada zaman dahulu. Jika zaman dulu orang-orang munafik masih sembunyi-sembunyi dalam melawan islam, tetapi orang-orang munafik hari ini telah melawan islam dengan terang-terangan. Mereka bela Demokrasi, liberisasi, pornografi dan berbagai kemunkaran-kemunkaran di negeri ini. Sebaliknya, mereka lawan amar ma’ruf nahi munkar, para penyeru syari’at dan para da’I yang mengajak kebenaran. Mereka bukan lagi disebut munafik, tetapi lebih pantas disebut zindiq. Yaitu seseorang yang mangaku islam, tetapi bersamaan dengan itu, ia serang dan ia hancurkan islam dengan lesan dan perbuatannya. Mereka lebih parah dan lebih bahaya dibandingkan munafikin.
Di masa sekarang ini segala urusan dikendalikan oleh mereka (orang-orang munafik). Sehingga kita menyaksikan bahwa mereka berpakaian sebagaimana orang-orang yang mengadakan perbaikan. Mereka layaknya seorang ulama atau penasihat yang penuh belas kasihan, bahkan mereka memakai pakaian seperti halnya seorang ahli ibadah atau orang shalih. Telah dipersiapkan bagi mereka mimbar-mimbar dan markas-markas ilmu agar berbicara tentang Islam. Telah dipersiapkan lembaran-lembaran kitab dan majalah serta media masa untuk mereka tulis dan sampaikan pada ummat dengan mengatasnamakan Islam. Namun, kenyataannya mereka sangatlah jauh dari Islam, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: 'Adawah, Aqidah, makalah,

BATASAN MENTAATI PENGUASA DALAM HAL-HAL YANG DIHARAMKAN

عَنْ أَبِى سَلاَّمٍ قَالَ قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ. قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ « نَعَمْ ». قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ « نَعَمْ ». قُلْتُ كَيْفَ قَالَ « يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

dari Abu Sallaam, ia berkata : Telah berkata Hudzaifah bin Al-Yamaan : Aku berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan, lalu kami berada di dalamnya. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?”. Beliau menjawab : “Ya”. Aku berkata : “Apakah setelah kejelekan itu ada kebaikan ?”. Beliau menjawab : “Ya”. Aku berkata : “Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan ?”. Beliau menjawab : “Ya”. Aku berkata : “Bagaimana itu ?”. Beliau bersabda : “Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia”. Aku (Hudzaifah) bertanya : “Apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkannya?”. Beliau menjawab : “(Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu, tetaplah mendengar dan taat” [Shahih Muslim no. 1847 (52)].

Sejak orang-orang kafir menguasai kaum muslimkin diberbagai lini dan menerapkan syari’at syari’at buatan manusia, maka keluarlah para muwahhidin untuk menggetarkan singgasana mereka. Para penegak tauhid berusaha menghancurkan pondasi-pondasi dan kekuasaan mereka. Hingga akhirnya terjadilah banyak pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan oleh para taghut. Dan penuhlah penjara para taghut dengan para ahli tauhid.

Para taghutpun tidak habis pikir. Mereka manfaatkan para ulama’ penguasa untuk menjadi tentara mereka dalam peperangan melawan ahlut tauhid.

Keluarlah ulama’-ulama’ su’ tersebut dengan peran mereka secara sempurna. Bahkan para ulama’ su’ tersebut telah berbuat dengan hal-hal yang tidak dibayangkan para tuannya. Mereka bolak balikkan teks-teks al qur’an dan as sunnah. Mereka permainkan hadist-hadit shahih dan yang maudhu’. Mereka tafsirkan al qur’an dan as sunnah sekehendak mereka. Semua ini dilakukan demi mendapatkan keridhoan dari sang tuan mereka.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, syubhat, Tafsir

MEMISAH KUBURAN MUSLIM DAN KUBURAN KAFIR

الحمد لله ربّ العالمين، والصّلاة والسّلام على أشرف المرسلين، محمد صلّى الله عليه، وعلى آله وصحبه أجمعين. أمّا بعد:
Allah Ta’ala telah memuliakan kaum muslimin dengan melebihkan dibanding yang lainnya di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala juga menjadikan bagi mereka hukum khusus dalam berbagai permasalahan.
Diantara kekhususan tersebut adalah, dikhususkannya kuburan yang digunakan untuk mengubur orang-orang mati diantara mereka. Dan tidak diperbolehkan seorang nasrani ataupun yahudi yang dikubur di dalamnya. Demikian pula bagi ummat islam tidak boleh menguburkan di pekuburan mereka.

Allah azza wa jalla memuliakan orang beriman dan menghinakan orang kafir. Dalam syariat dilarang menguburkan orang kafir di pekuburan orang Muslim, karena kuburan orang kafir adalah tempat yang akan diazab Allah, sedangkan kuburan orang Muslim adalah tempat tercurahnya rahmat Allah ( ampunan dosa ). Maka itu, tidak selayaknya tempat rahmat dan azab berada dalam lokasi yang sama.

Yang menjadi permasalahan hari ini adalah jika kaum muslimin tidak tinggal di negeri islam sehingga tidak tersedianya kuburan khusus bagi mereka. Maka menjadi sebuah keharusan untuk mengadakan kuburan khusus bagi ummat islam.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Fatwa, makalah

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 317,252 hits

Pengunjung

online